Jumat, 17 Januari 2014

The Wedding

Bukan, bukan pestanya yang ingin saya ceritakan. Tapi cerita di balik pesta itu sendiri. Selama delapan bulan pesta ini disiapkan, tapi saya tidak bisa bilang oleh saya, melainkan ibu saya. Yap pesta rancangan ibu saya dengan selera ibu saya. Boleh dibilang saat itu saya sebal sekali dengan ibu yang mengatur segalanya, tapi sekarang rasanya tidak penting lagi.

Pesta pernikahan biasanya ditunggu-tunggu kaum perempuan, bahkan ada yang sudah merencanakan pestanya sebelum dapat calon mempelai prianya. Saya pun sebenarnya punya mimpi sendiri tentang pesta pernikahan idaman, tapi mimpi itu harus dikubur dalam-dalam karena menurut ibu saya ini biaya dari orang tua jadi ini pesta orang tua. 

Setelah hampir tiga tahun menikah saya mulai berpikir kalau pesta pernikahan itu tidak begitu penting. Karena bukan hari pernikahannya yang paling penting tapi apa yang terjadi setelah hari pernikahan. Masih ingat pernikahan Kim Kardashian dan Kris Humphries yang menghabiskan jutaan dollar untuk kemudian bercerai 72 hari kemudian? Yap saya sangat yakin satu hari itu memang spesial tapi tidak sespesial itu sampai harus menghabiskan luar biasa banyak uang.

Yang saya dapat setelah hampir tiga tahun menikah adalah kita berdua harus sama-sama berusaha untuk tetap bersama. Saya tidak sempurna, dia juga tidak, tidak ada yang sempurna, tapi kalau kita embrace ketidaksempurnaan itu tiba-tiba hubungannya jadi terasa sempurna. Jadi yang paling penting itu bukan the Wedding tapi the Marriage.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar