Sabtu, 18 Januari 2014

The Pregnancy pt. 1

Suatu siang di penghujung tahun 2012 saya memelototi empat pen tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif. Seperti calon-calon ibu pada umumnya saya membuat janji dokter kandungan dan tersenyum lebar saat dikonfirmasi hamil.

Dokter saya bernama dr. Benny Johan Marpaung, Sp.OG. Masih muda, informatif, dan sangat ceria. Pesan yang selalu diulang-ulang dokter adalah jangan jatuh dan sering-sering ngedate sebelum bayinya lahir.

Saya pikir kehamilan selalu diikuti muntah-muntah, tapi ternyata tidak untuk saya. Selama enam minggu pertama tidak ada rasa apa-apa tapi setelah itu mulai diwarnai mual-mual. Ada teman yang bilang kalau bisa jangan sampai muntah, sekali muntah jadi kepingin muntah terus. Karena takut muntah saya sering menghabiskan waktu lama sekali untuk makan, karena hampir setiap dua suap saya mau muntah, jadi saya berhenti dulu sampai mualnya lewat baru lanjut makan. Mual-mual ini bertahan sampai masa kehamilan sekitar 16-20 minggu.

Sejak mulai hamil saya sering minta maaf kepada ibu saya. Hamil itu tidak mudah. Mual, sakit punggung, badan tidak nyaman, buang air kecil terus, sampai kontraksi saat bayi akan lahir. Semua itu tidak mudah dan tidak nyaman. Itu semua membuat saya berpikir betapa hebatnya ibu saya dan betapa saya pernah sangat tidak sopan dan kurang ajar terhadapnya, jadi saya minta maaf. Saya bersyukur saya lahir sebagai perempuan, saya diberi kesempatan untuk menjalani apa yang ibu saya alami dan menyadari kalau memang ibu saya luar biasa hebat.


24 minggu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar