Selasa, 08 September 2009

Perpustakaan Wilayah Kota Pekanbaru

Perpustakaan ini mungkin adalah salah satu icon kota Pekanbaru, sayang sekali saya tidak punya kamera, ingin sekali saya menunjukkan seperti apa bentuk gedungnya. Gedungnya sangat menarik, atapnya berbentuk buku yang sedang dibuka, desain eksterior dan interiornya juga sangat modern, saya hampir merasa berada di Jakarta. Full-AC, ada wifi gratis, dilengkapi dengan meja-meja dan tempat duduk yang nyaman. Kekurangannya hanya koneksi internetnya tidak begitu bagus dan masih banyak rak yang kosong dikarenakan koleksi buku yang masih sangat minim untuk sebuah perpustakaan besar.


Sampai di perpustakaan saya melihat di lantai dasar adalah lantai buku anak-anak, jadi saya naik ke atas. Di atas saya menitipkan tas dan sweater saya kemudian mulai mengelilingi rak. Buku yang terdapat di lantai itu kebanyakan adalah buku Islam, tapi di salah satu rak saya melihat buku 'Catatan Pinggir' yang merupakan kumpulan tulisan Goenawan Mohamad di majalah Tempo. Akhirnya saya mengambil buku itu dan mulai berjalan menuju meja untuk membaca sambil online.


Buku yang saya baca sangat menarik, saya sampai tidak sadar sudah 3 jam berada di perpustakaan. Pengalaman perpustakaan saya cukup menyenangkan, saya rasa akan jadi ritual hari Senin saya. Semoga bukunya terus bertambah, supaya semakin bagus.

Minggu, 06 September 2009

The Farewell

Hari ini Mba Rini berangkat ke Jakarta. Pukul 6.30 saya bangun dengan berat, menyeret kaki saya ke kamar mandi dan mengguyur badan dengan air dingin. Setelah selesai bersiap-siap saya ke kamar Mba Rini untuk membantunya bersiap-siap. Tepat pukul 7.15 Pak Fauzan sang supir taksi langganan saya sudah menjemput dan langsung membantu mengangkat koper-koper Mba Rini untuk dimasukkan ke dalam bagasi.


Sampai di airport kami ke information sebentar untuk membayar pass agar saya bisa mengantar Mba Rini sampai ruang tunggu. Saya baru tahu hal seperti itu bisa dijadikan bisnis, harga passnya Rp. 20.000,-.


Setelah melewati berbagai proses check-in dan membayar airport tax, kami masuk ke ruang tunggu dan duduk di salah satu bangku yang tersedia dan mulai mengobrol, waktu menunjukkan pukul 8.25 pagi. Akhirnya waktu yang dinanti-nanti datang, dari speaker petugas memanggil penumpang pesawat GA 173 untuk naik ke pesawat. Mba Rini tertawa dan memeluk saya, saya balas memeluknya, menahan tangis, dan mendapati Mba Rini menangis.


2 bulan mungkin waktu yang cukup singkat untuk berhubungan dekat dengan seseorang. Tapi dalam 2 bulan ini kami mengobrol banyak hal, saling bertukar cerita, pengalaman, dan pemikiran. Kami memiliki ritual mengobrol sambil menunggu lampu menyala, kabur ke Gloria Jean's kalau bosan di kamar, atau saya kabur ke kamar Mba Rini untuk mengobrol sambil menonton TV. Saya merasa saya bisa survive karena ada Mba Rini. She's a really good friend, a great sister.


Tapi seperti yang selalu terjadi dalam kehidupan, ada hitam ada putih, ada benar ada salah, ada pertemuan ada perpisahan. Memang bukan berarti saya tidak bisa bertemu Mba Rini lagi, saya rasa yang saat ini sedang merantau sendirian pasti mengerti perasaan saya.


Right now, i feel alone again.

The Breakfast, The Mic, and The Fireworks

Hari Minggu adalah hari tersibuk bagi saya. Dari jam 9 pagi sampai jam 5.30 sore saya mengajar hampir tanpa istirahat, hanya ada sekitar setengah jam saya bisa meluruskan kaki. Hari Minggu kemarin, tepatnya tanggal 6 September adalah hari terakhir Mba Rini ada di Pekanbaru, pada hari Senin ia akan terbang ke Jakarta untuk memulai hidupnya yang baru di ibu kota. Setiap ingat itu saya merasa sedih sekali, karena Mba Rini adalah teman pertama yang paling nyambung dan paling dekat.


Mba Rini mengadakan makan-makan kecil di sebuah restoran bernama Hawaii. Restoran ini namanya memang agak norak, tapi interiornya lumayan nyaman, rasanya seperti ada di lounge di Jakarta, bagian langit-langitnya dihias dengan kain berwarna maroon, layaknya restoran ada meja-meja dengan kursi atau sofa empuk, berkarpet dan ada big screen untuk karaoke. Selain itu ada bar juga gelatto bar. Makanan dan es krimnya pun enak.


Karena saya langsung dari tempat kerja, jadi saya datang paling duluan. Tak lama datang Mba Rini, disusul Mba Donna dan suaminya, Mas Budi. Kami berbuka puasa bersama duluan karena yang lain telat datang. Setelah buka kemudian datang Mba Julie dan Mas Vandri, disusul Mas Fajar dan Mike (ga pake mas soalnya dia bukan orang indonesia, aneh kalo pake mas), Mas Nyoman dan Mba Eci, terakhir Mas Arif dan Mba Era.


Setelah makan beberapa mulai memesan es krim, sisanya sudah tidak tahan ingin karaoke. Mas Vandri sudah mulai menyanyi-nyanyi sendiri sampai akhirnya dipaksa menggunakan mic oleh Mas Arif. Setelah Mas Vandri saya didaulat untuk menyanyi sambil menari dan karena saya paling muda jadi saya menurut dengan tekad memberikan penampilan yang paling spektakuler, dari sorakan mereka tampaknya penampilan saya benar-benar prima malam itu (haha). Juara karaoke malam itu adalah Mas Fajar, dia bisa menirukan Rhoma Irama menyanyikan Penasaran dengan sangat baik, dan saya hampir menangis karena tertawa.


Time flies when we enjoy it. Tanpa terasa sudah jam 10.30 saat saya menyanyikan Uptown Girl dan tiba-tiba mati lampu. Akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi pesta gila itu karena hari Senin mereka harus bekerja. Sebelum ke restoran saya sempat membeli kembang api, jadi begitu kita sudah di tempat parkir saya mengajak mereka semua bermain kembang api sebelum pulang, sekalian mendoakan agar 3 orang yang akan pergi, Mas Arif, Mike dan Mba Rini, sukses di kota masing-masing.


I had a blast that night.

Kamis, 03 September 2009

Thursday Night

Ada berita sedih datang dari teman satu tempat kos saya, Mba Rini, yang akan ditransfer ke Jakarta dan akan berangkat hari Senin besok. Saya sangat sedih mendengarnya, karena dia adalah teman terdekat saya di sini dan kalau tidak ada dia saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan social life saya.


Ternyata di kantornya ada juga yang akan ditransfer ke Jakarta dan ia menyelenggarakan makan-makan kecil menjelang kepergiannya, Mba Rini mengundang saya untuk datang. Tepatnya saya nimbrung ke acara mereka. Mereka adalah teman-teman kerja Mba Rini di sebuah perusahaan oil company di sini.


Yang menyenangkan adalah teman-teman sekantor Mba Rini sangat fun. Saya banyak tertawa dan sangat senang berkenalan dengan mereka semua, berhubung saya paling kecil di situ jadi saya memanggil semua orang dengan sebutan mba dan mas, ada juga yang pake pak dan bu.


Malam ini sangat menyenangkan, bertemu teman baru dan makan gratis tentunya (haha). Semoga hari-hari saya di depan juga akan menyenangkan seperti malam ini.

Rabu, 02 September 2009

Cerita Angkot 2

Kemarin saya naik angkot yang menempel 1 poster besar di langit-langit kendaraannya.


Poster Iron Maiden.

First Kiss (From a Student)

Hari itu saya mengajar group lesson untuk anak-anak berumur 3 tahun. Di antara 7 murid yang hadir dan bersama orang tua masing-masing ada 1 yang diantar bukan oleh ibunya, tapi oleh pembantunya dan nampaknya dia tidak begitu senang diantar pembantunya. Nama gadis kecil itu Rara.


Selama pelajaran ia tidak mau menurut dengan pembantunya, tapi selalu tersenyum kalau saya hampiri. Pada akhir pelajaran seperti biasa saya berjongkok di dekat pintu sambil berdadah-dadah dengan murid-murid cilik saya. Semuanya menyalami dan mencium tangan saya, tapi berbeda dengan Rara. Saat giliran Rara pamit ia mengambil tangan saya, tersenyum, kemudian memeluk dan mencium pipi saya.


Saya langsung terbang ke langit ketujuh. Terima kasih Rara.

How to Cross the Street in Pekanbaru

1. Lihat keadaan

2. Tarik napas

3. Lari!!


Menyeberang jalan di kota Pekanbaru bagaikan uji nyali. Para pengendara mobil dan motor tidak akan menginjak rem, walaupun kita sudah di tengah jalan dan menyeberang di zebra-cross. Nampaknya mereka lebih suka melihat kita tertabrak mobil daripada harus repot-repot menginjak rem.

Oops

Sudah lama sekali saya tidak mengupdate blog saya, dikarenakan kesibukan.. ngg.. ngga juga sih. Saya cuma sempet malas update. Tapi saya akan membalas kemalasan saya dengan menulis beberapa kejadian yang terjadi dalam hidup saya di sini.

Rabu, 05 Agustus 2009

Cerita Angkot

Ini saya temukan di sebuah angkot yang sepanjang perjalanan memutar lagu trance, di langit-langit kendaraannya iya memasang sebuah poster bergambar Bob Marley dengan tulisan:


PEACH & LOVE


Di bagian depan kendaraannya iya memasang papan kayu bertuliskan:


Hati-hati dompet anda.


Angkot sini gaul-gaul banget lho, rata-rata suka pasang musik keras dengan speaker besar (kayak di Pimp My Ride itu lho). Lagunya macam-macam, bisa lagu band-band major Indonesia sampai lagu Trance ngga jelas, tapi saya pernah juga ketemu angkot yang memutar lagu hip-hop.


Yang lebih mengagumkan supir-supir angkot sini sangat berteknologi tinggi, walaupun kebanyakan mereka memutar lagu dengan kaset, tapi ada juga yang memutar lagu dengan flashdisk, pake remote lagi.

Selasa, 04 Agustus 2009

Rumbai Experience

Hari itu adalah hari libur saya, seorang teman mengajak pergi ke Rumbai, dia ada jadwal mengajar di sana dan saya pikir lumayan juga jalan-jalan, saya juga penasaran seperti apa sekolah musik di sana.


Dari Pekanbaru harus lewat jembatan melewati sungai siak dulu untuk sampai ke Rumbai. Begitu sampai di seberang suasananya sangat berbeda, gersang adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan Rumbai. Pohon-pohonnya ada sih tapi tetap terasa gersang dan panas.


Sekolah musik yang kami tuju ada di dalam kompleks Chevron. Berada di dalam kompleks itu seperti masuk ke dalam SimCity dan Taman Safari, pagarnya banyak betul. Walaupun banyak pohon dan jalur hijau, tapi sengatan matahari mengalahkan semuanya.


Sebelum ke sekolah musik kami mampir ke semacam Club Housenya dan di sana ada kolam renang, kalau saya bawa baju bernang mungkin sudah lompat masuk, tapi karena tidak bawa jadi saya cuma menatap kolam renang saja.


Dari sana baru kami ke sekolah musik, begitu masuk saya serasa ada di dalam klinik dokter umum. Pintu putih, Dinding putih, AC putih dingin, perabotan kayu, harus lihat sendiri deh pokoknya.


Saya cukup senang jalan-jalan ke Rumbai, memang hampir tidak ada yang bisa dilihat sih, tapi waktu di Club House suasananya enaaaaaakkkk sekali, bisa duduk sambil lihat langit.

Minggu, 26 Juli 2009

Midnight Laughs

Mati lampu adalah issue terbesar kota Pekanbaru. Sampai saat ini saya belum terbiasa dengan mati lampu di sini, makian dan perasaan-perasaan sebal masih ada. Kalau mati lampu, saya pasti online menggunakan laptop di koridor depan kamar karena di ruang tengah ada semacam emergency lamp yang menyala.


Ternyata mba Rini juga memiliki kebiasaan yang sama dengan saya, suatu kali kami bertemu di koridor dan tertawa. Awalnya hanya saya dan mba Rini yang nongkrong di koridor kalau mati lampu, tapi kemudian bergabung mas Zul dengan laptopnya. Lama kelamaan bergabung juga mas Agus, mas Deni, mas Riki, dan Elsa. Akhirnya itu menjadi ritual setiap malam, sampai jam 12 malam kami akan bercanda, main tebak-tebakan, main sulap (mas Deni bisa sulap), dan mengobrol tentang hidup masing-masing.


Saya mensyukuri moment itu. Manusia memang tidak bisa hidup sendiri karena manusia selalu membutuhkan manusia yang lain.

Selasa, 21 Juli 2009

A Nice Coincidence

Malam ini saya makan malam di mall bersama Elsa, tapi karena Elsa ada rapat gereja jadi dia pulang duluan. Setelah membereskan bill saya beranjak pergi tiba-tiba ada yang memanggil saya, ternyata mba Rini teman satu kos. Mba Rini sedang mencari tempat untuk duduk dan bekerja (di rumah lampu mati, makanya dia cari di mall), akhirnya saya ikut bersamanya untuk duduk dan bekerja di Gloria Jean's.


Ternyata mba Rini mempunya hobi traveling dan dia pernah backpackers ke Vietnam, Thailand, dan Laos. Dia juga pernah belajar diving dan menggemari olahraga air tersebut. Saya benar-benar kagum dengan cerita-cerita perjalanannya, dan iri tentu saja. Selama ini saya dan seorang teman (pacar deng) ingin sekali pergi ke Pulau Sikuai untuk snorkling dan ternyata mba Rini sudah pernah ke sana dan dia bilang tempatnya sangat bagus, saya jadi ngiler.


Long story short saya sangat menikmati malam ini mengobrol dengan mba Rini, selain karena kita memiliki ketertarikan yang mirip, dia juga orangnya sangat ramah dan menyenangkan. Kalau bertemu orang seperti mba Rini saya jadi tidak kesepian lagi dan merasa saya akan betah di sini.

Minggu, 19 Juli 2009

The Hardest Part

Selama beberapa minggu di sini saya mengalami berbagai kejadian lucu, unik, menyebalkan, dan lain-lain. Banyak hal yang saya sadari hingga saat ini, salah satunya adalah saya merasa hidup sejak tinggal sendirian, bukan karena jauh dari orang tua jadi saya bisa seenaknya, tapi lebih karena saya mencari uang sendiri, makan uang sendiri, belanja uang sendiri, apa-apa sendiri. I think everyone should try this, it really makes you feel ALIVE.


Tapi walaupun saya merasa hidup dan baik-baik saja, saya menyadari tetap ada yang terasa berat. Ya tempat tinggalnya memang agak di bawah harapan dan standard saya, ya listriknya sering mati, ya di sini memang krisis air, ya saya memang jauh dari rumah dan segalanya tidak selalu seperti yang saya harapkan, tapi hal-hal tersebut tidak terlalu berat.


The hardest part is not about being away from home, but being away from friends and family that makes you feel like home.


I do feel lonely, sometimes.

Jumat, 17 Juli 2009

Cream Soup and Silent Hill

Sejak 2 hari yang lalu saya sakit flu dan batuk begitu kembali ke Pekanbaru dari Jakarta. Karena itu untuk sarapan saya membuat sup krim ayam instan dengan kompor listrik kecil yang saya bawa dari Jakarta. Enaaakkk sekali rasanya. Saran saya untuk para perantau, bawa kompor listrik kecil dan beli sup instan saat lagi sakit, sangat menolong.


Selesai sarapan saya berangkat mengajar, waktu menunjukkan pukul 8.30. Begitu keluar rumah saya langsung disambut dengan Real Life Silent Hill, tapi tanpa setan-setan menyeramkan. Yang saya maksud adalah kabut asap. Jarak pandang saat itu sekitar 10-15 meter, lebih dari itu yang tampak di mata adalah putih, putih, dan putih.


Saya rasa hal ini dapat menjadi iklan pariwisata yang cukup menarik dari Pekanbaru. Kurang lebih isinya begini 'If you want to experience the real life Silent Hill, come to Pekanbaru!' dengan note kecil bertuliskan 'harap membawa masker'.

Sabtu, 11 Juli 2009

Ibu

Selama 2 hari berturut-turut saya menemukan lipan di kamar mandi saya, what a nightmare. Hari pertama saya memanggil mba Ita untuk mengusir lipan tersebut dia bilang 'Injek aja, soalnya nanti juga muncul lagi.' Saya melotot mendengarnya, bisa gila saya kalo harus lihat lipan terus-terusan.


Hari kedua saya kembali memanggil mba Ita karena saya jadi tidak bisa mandi. Dia cuma menyemprot salurang pembuangan air dengan Baygon, saya tidak yakin dengan Baygon, karena masih cemas saya akhirnya menelfon Ibu di Jakarta.


Ibu menenangkan saya dan memberikan solusi. Solusinya saya buat air panas dan siram ke saluran pembuangan, lipannya pasti mati dan insyaAllah tidak balik lagi katanya. Saya lega setelah berbicara dengan Ibu, Ibu juga bilang dia akan bertanya kepada teman-temannya yang pernah tinggal di Pekanbaru untuk mencarikan tempat kos yang lebih baik daripada yang sekarang.


Ibu memang orang yang tepat untuk mengadu, saya sekarang sangat menyadari pentingnya dia. I love you, Mom.

Kamis, 09 Juli 2009

at The Gloria Jean's

Malam ini karena mati lampu saya mengungsi ke Gloria Jean's selain untuk menikmati susu coklat panas juga untuk berinternet dengan nyaman. Sempat berbincang sedikit dengan si mba di belakang mesin, ternyata dia dari Jakarta juga, sudah setahun di Pekanbaru, kebetulan yang menyenangkan.


Saat menjelang tutup tiba-tiba ada seorang bapak datang dan memesan kopi. Ini adalah conversation yang terjadi di dalam toko, mohon di catat malam ini saya satu-satunya pengunjung di situ.


Bapak : "Mba Saya minta Cappuccinonya deh."

Mba : "Baik Pak. Eh Pak mohon maaf, tapi dishwasher-nya lagi sedikit bermasalah, kalau pakai cup aja gak papa ya Pak?"

Bapak : "Gelas Bekas?" (saya dan si mba menahan tawa)

Mba : "Eh bukan Pak, pakai cup seperti untuk take away."

Bapak : "Oh ya gak papa asal bukan gelas bekas." (si bapak membalik badan menghadap saya yang sedang tertawa) "Eh tertawa dia, eh anak sd kok belum pulang?" (saya semakin tertawa).

Saya Asli Pekanbaru

Saat sedang berdiri di dalam bus, orang di belakang memanggil saya dan bertanya.


Mas : "Mbak halte kantor pos di mana ya? Saya disuruh transit di situ."

Saya : "Oh di depan sana, Mas. Nanti kelihatan kok."

Mas : "Oh ya ya. Terima kasih."

Saya : "Bukan orang sini ya?"

Mas : "Oh saya asli Pekanbaru, tapi saya baru sekali naik Trans Metro."

Selasa, 07 Juli 2009

at The Bus Stop

Sepulang kerja saya mencoba naik Trans Metro Pekanbaru lagi. Setelah membeli tiket saya duduk menunggu, tak lama setelah saya duduk si penjual tiket mengajak saya mengobrol, dia melihat saya keluar dari sekolah musik jadi dia tanya apakah saya guru musik dan saya jawab iya. Dari situ kami mulai mengobrol tentang musik.


Namanya mas Eko, dia bisa main gitar, musik favoritnya adalah blues dan jazz. Dia pernah main band tapi ga kemana-kemana bandnya jadi bubar. Dia bilang di Pekanbaru tidak ada wadah untuk orang-orang yang ingin membuat lagu yang berbeda, dulu kadang-kadang ada, tapi makin ke sini makin tidak ada. Mungkin karena sistem informasi di Pekanbaru yang masih minim, mas Eko cuma kenal musisi-musisi seperti Indra Lesmana dan Tompi, tapi saya yakin kalau dikasih Quasimode pasti naksir dia.


Bagi musisi jazz di ibukota sana mungkin bisa memberi wadah bagi musisi-musisi amatir di daerah supaya bisa lebih berkembang lagi.

???

Saat di perjalanan berangkat kerja, bus Trans Metro Pekanbaru melewati restoran fast food ayam yang terkenal dengan si bapak kolonelnya. Di depan restoran mereka memasang spanduk bertuliskan 'MARI KITA IKUT AMBIL BAGIAN DALAM GERAKAN CINTA PRODUK DALAM NEGERI' dengan logo restoran tersebut.


Apakah saya ketinggalan berita? Apa negara kita ini sudah diambil alih oleh negara adikuasa? Atau ternyata Indonesia diam-diam mengambil alih negara adikuasa? Atau memang sudah terjadi salah kaprah luar biasa dalam benak orang yang memasang spanduk tersebut?

First Time 'Berangkat Kerja Naik Trans Metro Pekanbaru' Experience

Akhirnya saya mengalami berangkat mengajar naik Trans Metro Pekanbaru. Setelah tanya-tanya dengan petugas penjual tiket, dengan penuh percaya diri saya naik bus Trans.


Hari ini pengguna Trans cukup ramai, semua kursi penuh, jadi saya berdiri bersama beberapa orang lain. Di satu pemberhentian beberapa orang turun, saya pikir bapak tua yang berdiri di sebelah saya akan mencari tempat duduk, jadi saya memberi dia jalan, tapi ternyata tempat duduk yang dia tuju sudah diduduki anak kecil. Di halte berikutnya bapak tua itu turun bersama orang-orang lain dan saya dapat tempat duduk.


Dua halte setelah itu ada ibu tuna netra masuk dan saya melihat satu bus merespon keadaan fisik ibu itu. Semua berusaha membantu ibu itu masuk, memberi jalan, dan memberi tempat duduk. Baru kali ini saya melihat orang-orang di tempat umum bergerak membantu seorang yang memiliki kelemahan. Sampai saat ini saya pikir orang-orang sudah terlalu individual karena kemajuan zaman, tapi hari ini membuktikan lain.

Senin, 06 Juli 2009

The First 'Trans Metro Pekanbaru' and 'Banking' Experience

Hari ini saya tidak ada jadwal mengajar, hanya rapat guru jam 10 di Jalan Juanda. Setelah selesai rapat saya makan siang di dekat sekolah musik kemudian dengan diantar Pak Effendy saya pergi ke gerai Garuda Indonesia di Hotel Pangeran. Dari sana saya mencoba bus Trans Metro Pekanbaru.


Seperti di Jakarta, Trans Metro Pekanbaru memiliki halte khusus sendiri, cukup bersih, sederhana, dan lumayan panas (haha), bedanya letak haltenya tidak di tengah jalan tapi di pinggir kiri jalan. Prosedurnya pun sama, kita masuk halte membeli tiket seharga Rp. 3.000,- kemudian menunggu sampai busnya datang.


Busnya sendiri tidak berbeda dengan Trans Jakarta, ber-AC dan nyaman. Bedanya kalau di Jakarta ada rekaman suara wanita yang akan berkata 'Next Destination blablabla' kalau di Trans Metro Pekanbaru yang berkata begitu adalah keneknya, dia akan berteriak 'Balai Kota, ada yang turun Balai Kota?', kalau semua diam, busnya tidak jadi berhenti di Balai Kota kecuali kalau dia lihat di halte ada yang menunggu (sungguh aneh). Tidak berhenti di semua halte adalah hal yang cukup unik untuk sebuah Trans Metro menurut saya.


Turun dari bus saya masuk ke Bank Mandiri Sudirman Atas untuk menyetor uang. Begitu masuk saya langsung merasa lelah, antrian tellernya sepanjang antrian sembako. Tapi ternyata di Pekanbaru sudah ada mesin setoran tunai, antri juga sih tapi tidak sepanjang teller. Sialnya mesin itu tiba-tiba rusak, setelah agak bingung-bingung satpam menyarankan kami semua menyetor dengan mesin yang ada di Bank Mandiri Sudirman Bawah. Setelah tanya ke sana kemari lokasi tepatnya bank tersebut akhirnya saya pergi ke sana naik angkot.


Sampai di Bank Mandiri Sudirman Bawah ternyata mesin setoran tunainya ngantri juga dengan orang-orang yang sama seperti di Sudirman Atas. Ibu-ibu sebelum saya lamaaaa sekali, ternyata uangnya ditolak terus sama mesinnya. Sampai bapak-bapak di belakang saya bilang 'Bu kalau uangnya lecek, basah, terlipat dia ga mau Bu.' Akhirnya setelah beberapa lama si Ibu itu selesai dan tiba giliran saya. Saya jadi tahu kenapa Ibu itu lama, mesin sialan itu rewel sekali, berbeda dengan yang di Jakarta, cuma lusuh sedikit dia benar-benar ga mau. 4 lembar terakhir uang saya benar-benar ditolak, padahal uang-uang itu hanya lusuh sedikit.


Untuk menghibur diri saya berencana menonton film Transformers, tapi begitu mau beli tiket adanya tinggal jam 7 malam, akhirnya di sinilah saya ditemani kentang goreng dan jus apel.

Minggu, 05 Juli 2009

Facebook Kills Moms

Masih di Gloria Jean's di depan saya ada suami istri sedang bermain laptop sendiri-sendiri. Tak lama datang 3 anak kecil dengan 3 suster yang berbeda masing-masing memegang mobil-mobilan.


3 anak bermain mobil-mobilan di Toy's City bersama 3 suster yang berbeda. Dan apa yang dilakukan sang ibu?


Bermain facebook.

Mati Lampu

Saat ini saya ada di Gloria Jean's minum coklat panas sambil berwifi dan datanglah si tamu tak diundang yaitu mati lampu. Tamu tak diundang ini yang memang sudah merupakan rutinitas di Pekanbaru sangat sangat menyebalkan. 


Tadi sore setelah mengobrol dengan beberapa teman sesama guru saya jadi tahu kalau Pekanbaru tidak memiliki pembangkit listrik sendiri, melainkan menumpang dengan propinsi di sekitarnya, makanya di sini hobi sekali mati lampu.


Yang mengherankan adalah Pekanbaru pertumbuhan ekonominya cukup maju, tapi kenapa serba susah. Listrik susah, air susah, internet juga masih jarang-jarang. Yah kepada anda-anda yang berada di atas sana tolong ya bekerja lebih keras lagi supaya kota ini semakin maju di segala bidang.

Usir Itu

Beberapa bulan lalu teman baik saya mita pergi ke Bali, dia cerita di sana dia tinggal di tempat kos dan menemukan kecoa di dalam kamarnya yang membuat dia histeris dan merepotkan seorang teman lain. Saya mentertawakan ceritanya sambil meledeknya penakut. Hari ini saya mendapat karmanya.


Ada kecoa besar di kamar mandi saya.


Saya terpaksa merepotkan teman 1 kos saya bernama mas Riki karena saya takut mengusirnya.



PS: Sorry Mimita aku janji ga bakal ngeledek lagi.

Sabtu, 04 Juli 2009

Tiada Hari Tanpa Bekerja

Untuk sampai ke sekolah musik saya harus menyusuri Jalan Sudirman yang lumayan panjang, dekat perpustakaan di tengah pembatas jalan terdapat banyak plang-plang iklan. salah satunya bertuliskan 'Tiada Hari Tanpa Bekerja'.


Kalimat itu cukup menggelitik, sangat masuk akal kalau orang Pekanbaru pikirannya hanya bekerja, habis memang tidak ada hiburan lain selain bekerja. Kalau dipikir-pikir nampaknya yang mengarang kalimat itu mau curhat.

The First 'Kabut Asap' Experience

Saat saya terbang ke Pekanbaru tanggal 3 Juli kemarin, sesaat sebelum siap-siap landing saya melihat asap dan warna merah kecil di daratan bawah sana. Waktu itu saya bertanya-tanya itu apa ya? kebakaran? pabrik? salah lihat? Hanya sampai situ pemikiran saya.


Hari ini saya mendapat jawabannya, ternyata itu adalah kebakaran hutan. Saya mendapat jawabannya saat berangkat mengajar, begitu keluar dari tempat kos saya melihat kabut menggantung di langit, semakin lama semakin pekat. Sampai ke sekolah musik saya diperkenalkan pada si 'Kabut Asap' yang kadang sampai mengganggu negara tetangga ini.



PS: Saat ini selain mati lampu 3 kali sehari, di Pekanbaru juga sedang terjadi krisis air bersih, untungnya tempat tinggal saya sumber airnya bukan hanya PAM.

La La La Dengarlah

Tanggal 15 Juli nanti saya ada seminar lagi, untuk itu saya harus melatih beberapa lagu yang sudah menjadi tugas saya. Jujur saja saat ini saya agak stress menghafal lagu-lagu tersebut, nampaknya otak saya sudah bumpet, tidak bisa dimasukkan lagu-lagu lagi, kalau pakai bahasa Friendster nama saya pasti sudah berubah jadi ANIKA FULL.

Graffiti

Untuk pertama kalinya saya melihat graffiti di Pekanbaru, tepatnya di tembok belakang sebuah ruko. Saya melihatnya karena kebetulan tempat saya makan siang jendelanya pas menghadap ke situ.


Graffitinya cukup bagus, biasa saja sih sebenarnya, saya tidak tahu bacanya apa, terdiri dari 2 warna biru dan hitam. Di sebelahnya terdapat 'nama-nama keren' dari sang pembuat, tapi yang paling menarik adalah setelah deretan 'nama-nama keren' tersebut terdapat gambar tengkorak dan di sampingnya ditulis 'We Not EMO'. Bagi saya tulisan tersebut justru makin menegaskan ke-EMO-an mereka.

Jumat, 03 Juli 2009

Saya Lapar Sekali

Selesai sudah seminar 2 hari di Jakarta, saat ini saya sedang menunggu pesawat di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta. Sebelumnya saya makan di Koufu Food Mall deket pintu masuk gate 3 setelah check-in. Karena seharian ini saya seminar ditambah lagi dengan waktu tidur yang agak kurang karena dipakai mengerjakan beberapa tugas, saya cuma sempat sarapan ayam dan tidak makan atau ngemil apa-apa lagi setelah itu, jadi boleh dibilang saya cukup lapar. 


Makanan di Koufu sangat enak walaupun dengan harga yang cukup ehem (namanya juga di bandara). Saya makan chicken katsu plu tempura udon (agak bablas sedikit, porsinya besar lagi). Enak sekali. Selama saya makan saya mendapat tatapan aneh dari para penjaga counter di situ. Saya membalas tatapan mereka dengan tatapan 'Saya Lapar Sekali!' dan meneruskan makan.

Rabu, 01 Juli 2009

Sultan Syarif Qasim Airport - Pekanbaru

Saat ini saya sedang berada di ruang tunggu keberangkatan di Sultan Syarif Qasim Airport, Pekanbaru. Karena saya pernah ke Batam dan melihat Hang Nadim Airport saya tidak begitu kaget melihat ruang tunggu yang cukup sederhana ini, tapi menurut saya masih mendingan ruang tunggu airport sini daripada di Batam sana. Di sini semua gate 1 ruang tunggu jadi ramai sekali.


Ngomong-ngomong saya ketemu pria yang ada di pesawat yang sama saat saya berangkat dari Jakarta ke Pekanbaru. Umurnya mungkin akhir 20an, cukup fashionable dan yang paling mencolok dia menenteng-nenteng tas belanja Metro, nampaknya dia sayang sekali sama tas belanja itu. Cukup ganteng lho, ketemu 2 kali lagi, siapa tahu jodoh. Ups! Sorry bacum kamu tetap yang nomor 1 kok, hihi.

Internet

Saya masih menggunakan Axis, untuk sekedar chatting cukup murah, tapi masih mencari untuk download-download. Kata Mas Irfan kalau mau download di foodcourt Mall Pekanbaru saja. Saran yang cukup menggiurkan, mungkin akan saya coba kapan-kapan.


Buat yang punya info koneksi internet portable dengan harga murah beritahu saya ya. I'm in desperate need of a good internet connection.

First Day Teaching

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, mengajar piano klasik untuk pertama kalinya di Pekanbaru. Dari beberapa murid yang dijadwalkan untuk menjadi murid saya hanya satu yang muncul, maklum hampir semua murid masih liburan.


Untuk pertama kalinya pula saya naik angkot di sini. Angkot merupakan alat transportasi yang cukup ekonomis di sini tarifnya Rp. 2.000,-. Lain hal dengan taksi, di sini taksi tidak pakai argo, argonya ada tapi cuma mejeng saja di dashboard, bisa dibayangkan kan kalau pendatang baru pasti diberi tarif mahal. Setelah naik angkot saya berjalan kaki sekitar 100 meter, jaraknya dekat tapi di sini panas, jadi lumayan cape juga.


Sebelum mengalami kelas pertama saya sempat rapat dulu dengan guru-guru yang menjadi panitia suatu acara yang akan diadakan sekolah musik tempat saya bekerja. Saya berkenalan dengan Bu Linda, Bu Sriwati, Bu Yayat, Mba Esa, Mba Sulastri, Mas Hendra, Pak Lexi, dan Mas Irfan yang juga merupakan staff pengajar dari berbagai bidang di sini. Juga ada Pak Khaerudin yang merupakan penanggung jawab.


Murid pertama saya bernama Rani, baru masuk kelas 1 SMA dan nampaknya cukup pemalu, atau mungkin karena pertama kali ketemu saya. Agak lelet juga saya dalam mengingat kurikulum sampai akhirnya saya buka contekan yaitu buku syllabus.


Sejauh ini kehidupan saya di sini cukup menyenangkan, kecuali bagian tidak bisa latihan pianonya. Di sekolah musik boleh latihan tapi tidak boleh pakai ac dan hanya kalau kelasnya kosong, belum lagi jarak dari tempat tinggal ke sekolah musik lumayan jauh. Malam ini saya pulang ke Jakarta untuk seminar 2 hari, mungkin saya akan membawa keyboard saya ke sini supaya bisa latihan dengan tenang.


PS: Restoran di sini tidak mencantumkan harga makanan di menunya, jadi pas bayar agak kaget. Masa saya makan mie goreng telur dan minum es teh manis totalnya Rp. 10.000,-? Mienya mie instant lho.

Selasa, 30 Juni 2009

Here I am at Pekanbaru

Sudah 3 hari saya berada di Pekanbaru, kota yang akan saya tinggali selama 6 bulan ke depan. Halo kehidupan baru!


Ini adalah pengalaman pertama saya berada di Pekanbaru, saya di sini untuk bekerja selama 6 bulan mengajar piano di sekolah musik ternama berhuruf depan Y. Dengan diantar bapak tercinta saya mempelajari dan beradaptasi dengan kota ini, tapi sampai saat ini saya belum berhenti beradaptasi.


Kotanya dibanding Jakarta jauh lebih kecil, lebih bersih, dan lebih ngga macet. Jarak antara airport dengan pusat kota pun tidak jauh, bahkan sangat dekat. Ada jalan utama bernama Jalan Sudirman yang ada buswaynya juga, sama seperti di Jakarta, bedanya dia tidak diberi jalur khusus, seperti di Jalan Sudirman Jakarta jalanan ini jg diatapi dengan pohon-pohon yang mereduksi sedikit hawa panas, tapi ngga jg sih, tetep panas. Tempat tinggal baru saya merupakan tempat kost yang dekat dengan Mall Ciputra di Jalan Riau, cukup menyenangkan soalnya dengan mudah saya bisa mendapat akses internet dari wifi yang disediakan beberapa restoran di mall tersebut. Sejauh ini saya berpendapat internet adalah barang yang cukup mewah di kota ini.


Tempat tinggal baru saya terdiri dari 2 lantai dan merupakan tempat kost campur, jadi ada laki-laki juga di sini yang agak membuat saya tidak nyaman, tapi secara keseluruhan tempat kost ini saya masukan di kategori passable. Ada beberapa hal yang cukup membuat saya kecewa dan sedikit 'ehem' tapi saya rasa saya bisa menjalaninya dan harus tetap bersyukur.


Karena saya ditemani ayah jadi kami sempat berjalan-jalan di mall membeli kebutuhan-kebutuhan yang tidak bisa/lupa dibawa dari Jakarta seperti gantungan baju, emergency lamp (harus beli karena di sini mati lampu 3 kali sehari, yang paling lucu kalau terjadi di mall biasanya ada anak-anak teriak dan ada anak lain bersuara "wuuuuuuuu kik kik kik", luar biasa), aqua 2 liter, sabun cuci baju, sabun mandi, makanan kecil, kaus kaki (lupa lupa lupa, masa bawanya cuma 1 pasang kanan kiri beda), dan yang terpenting cari nomer telfon. Berhubung hp saya cdma jadi saya beli nomor esia, tapi beli modem dan nomor gsm juga.


Waktu beli modem sekalian ditest modemnya, tapi tekomselnya tidak mau connect ke internet, kata masnya jaringannya jelek mendingan pake axis aja, tapi karena telkomflash satu-satunya yang berfasilitas unlimited jadi saya keukeuh maunya telkomflash dan merencanakan pergi ke Grapari keesokan harinya.


Akhirnya bapak saya yang ke grapari, ternyata untuk apply internet unlimited harus memberi berkas-berkas yang agak menyulitkan untuk saya seperti tagihan listrik, slip gaji, saldo bank, dll. Gimana mo ngasih tagihan listrik, orang saya ngekost. Akhirnya saya kembali online dengan wifi gratis di Ciputra Mall (di restoran bernama Kimteng, enak lho, makanan dan minumannya tidak mahal, bisa internet pula). Malamnya baru saya beli kartu axis.


Pagi-pagi sekali tadi bapak saya pulang jadi tinggalah saya di sini sendirian. Agak kecut juga hati saya, diserang takut, takut tidak siap mental, takut gagal (ga tau gagal apa, takut aja), takut kenapa-kenapa, takut ada masalah, takut sendirian. Mungkin takut sendirian yang paling besar, karena selama ini saya tidak pernah jauh dari orang tua, sekarang saya harus kerja dan memenuhi kebutuhan saya sendiri. Kalau sudah begini saya jadi sayang orang tua, dulu-dulu lupa karena selalu dekat, kalau uang kurang tinggal minta, kalau sekarang mau minta sama siapa? Masa sama ibu kost?


Sekitar sesaat setelah bapak saya pergi meninggalkan tempat kost dengan taksi, saya memindahkan barang-barang saya ke kamar bawah, karena katanya kosong jadi mendingan di kamar bawah aja dan kamarnya juga bersebelahan dengan Elsa sesama guru di sini. Saya sampai lupa cerita tentang orang-orang baru. Ada Pak Effendy yang menjemput saya dari bandara dan istrinya Ibu Effendy, Pak Yusrin, pemilik Yamaha cabang Pekanbaru dan istrinya Ibu Yusrin dan anak-anaknya Fandi dan Chocho, juga ada Mba Desri pengurus sekolah musik dan staf-staf yang cukup banyak. Mereka semua baik dan ramah, saya ditraktir makan, karaoke, dan main billiard oleh Pak Yusrin dan keluarga.


Masalah terbesar saya di sini adalah internet. Saya terbiasa hidup dengan internet, kalau saya di rumah (Jakarta) saya pasti main internet, penyebab utamanya adalah karena saya menjalani long distance relationship, penyebab lainnya karena di internet saya bisa liat apa saja. Tapi ternyata di kota ini internet belum menjadi kebutuhan primer, karena sampai saat ini saya masih bingung bagaimana saya bisa internet dengan murah dan sepuasnya. Saya tidak mungkin langganan internet yang butuh pasang kabel dan antena karena saya tinggal di tempat kost, saya lebih memilih internet portable, pilihan saya jatuh dengan menggunakan fasilitas internet dari gsm yang ada. Tapi jaringan Telkomflash ternyata belum begitu bagus, sejauh ini saya menggunakan Axis, tapi karena saya sering download jadi baru sejam saya sudah habis Rp. 20.000,-. Bagi saya itu terlampau mahal. Tapi saya masih terus mencari cara untuk bisa nyaman berinternet.


Sejauh ini saya merasa baik-baik saja di sini, perasaan takut tetap ada, pingin nangis juga ada, tapi kalau saya nangis nanti mental saya tambah lembek, jadi saya harus optimis karena mulai hari ini hingga 6 bulan ke depan saya cuma punya diri saya sendiri untuk diandalkan.



PS: tempat kost saya pengamanannya seperti penjara, pintu dan kuncinya cukup banyak sampai saya selalu menghabiskan waktu semenit untuk menemukan kunci mana untuk membuka gembok mana.