Senin, 06 Juli 2009

The First 'Trans Metro Pekanbaru' and 'Banking' Experience

Hari ini saya tidak ada jadwal mengajar, hanya rapat guru jam 10 di Jalan Juanda. Setelah selesai rapat saya makan siang di dekat sekolah musik kemudian dengan diantar Pak Effendy saya pergi ke gerai Garuda Indonesia di Hotel Pangeran. Dari sana saya mencoba bus Trans Metro Pekanbaru.


Seperti di Jakarta, Trans Metro Pekanbaru memiliki halte khusus sendiri, cukup bersih, sederhana, dan lumayan panas (haha), bedanya letak haltenya tidak di tengah jalan tapi di pinggir kiri jalan. Prosedurnya pun sama, kita masuk halte membeli tiket seharga Rp. 3.000,- kemudian menunggu sampai busnya datang.


Busnya sendiri tidak berbeda dengan Trans Jakarta, ber-AC dan nyaman. Bedanya kalau di Jakarta ada rekaman suara wanita yang akan berkata 'Next Destination blablabla' kalau di Trans Metro Pekanbaru yang berkata begitu adalah keneknya, dia akan berteriak 'Balai Kota, ada yang turun Balai Kota?', kalau semua diam, busnya tidak jadi berhenti di Balai Kota kecuali kalau dia lihat di halte ada yang menunggu (sungguh aneh). Tidak berhenti di semua halte adalah hal yang cukup unik untuk sebuah Trans Metro menurut saya.


Turun dari bus saya masuk ke Bank Mandiri Sudirman Atas untuk menyetor uang. Begitu masuk saya langsung merasa lelah, antrian tellernya sepanjang antrian sembako. Tapi ternyata di Pekanbaru sudah ada mesin setoran tunai, antri juga sih tapi tidak sepanjang teller. Sialnya mesin itu tiba-tiba rusak, setelah agak bingung-bingung satpam menyarankan kami semua menyetor dengan mesin yang ada di Bank Mandiri Sudirman Bawah. Setelah tanya ke sana kemari lokasi tepatnya bank tersebut akhirnya saya pergi ke sana naik angkot.


Sampai di Bank Mandiri Sudirman Bawah ternyata mesin setoran tunainya ngantri juga dengan orang-orang yang sama seperti di Sudirman Atas. Ibu-ibu sebelum saya lamaaaa sekali, ternyata uangnya ditolak terus sama mesinnya. Sampai bapak-bapak di belakang saya bilang 'Bu kalau uangnya lecek, basah, terlipat dia ga mau Bu.' Akhirnya setelah beberapa lama si Ibu itu selesai dan tiba giliran saya. Saya jadi tahu kenapa Ibu itu lama, mesin sialan itu rewel sekali, berbeda dengan yang di Jakarta, cuma lusuh sedikit dia benar-benar ga mau. 4 lembar terakhir uang saya benar-benar ditolak, padahal uang-uang itu hanya lusuh sedikit.


Untuk menghibur diri saya berencana menonton film Transformers, tapi begitu mau beli tiket adanya tinggal jam 7 malam, akhirnya di sinilah saya ditemani kentang goreng dan jus apel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar