Hari ini Mba Rini berangkat ke Jakarta. Pukul 6.30 saya bangun dengan berat, menyeret kaki saya ke kamar mandi dan mengguyur badan dengan air dingin. Setelah selesai bersiap-siap saya ke kamar Mba Rini untuk membantunya bersiap-siap. Tepat pukul 7.15 Pak Fauzan sang supir taksi langganan saya sudah menjemput dan langsung membantu mengangkat koper-koper Mba Rini untuk dimasukkan ke dalam bagasi.
Sampai di airport kami ke information sebentar untuk membayar pass agar saya bisa mengantar Mba Rini sampai ruang tunggu. Saya baru tahu hal seperti itu bisa dijadikan bisnis, harga passnya Rp. 20.000,-.
Setelah melewati berbagai proses check-in dan membayar airport tax, kami masuk ke ruang tunggu dan duduk di salah satu bangku yang tersedia dan mulai mengobrol, waktu menunjukkan pukul 8.25 pagi. Akhirnya waktu yang dinanti-nanti datang, dari speaker petugas memanggil penumpang pesawat GA 173 untuk naik ke pesawat. Mba Rini tertawa dan memeluk saya, saya balas memeluknya, menahan tangis, dan mendapati Mba Rini menangis.
2 bulan mungkin waktu yang cukup singkat untuk berhubungan dekat dengan seseorang. Tapi dalam 2 bulan ini kami mengobrol banyak hal, saling bertukar cerita, pengalaman, dan pemikiran. Kami memiliki ritual mengobrol sambil menunggu lampu menyala, kabur ke Gloria Jean's kalau bosan di kamar, atau saya kabur ke kamar Mba Rini untuk mengobrol sambil menonton TV. Saya merasa saya bisa survive karena ada Mba Rini. She's a really good friend, a great sister.
Tapi seperti yang selalu terjadi dalam kehidupan, ada hitam ada putih, ada benar ada salah, ada pertemuan ada perpisahan. Memang bukan berarti saya tidak bisa bertemu Mba Rini lagi, saya rasa yang saat ini sedang merantau sendirian pasti mengerti perasaan saya.
Right now, i feel alone again.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar