Rabu, 05 Agustus 2009

Cerita Angkot

Ini saya temukan di sebuah angkot yang sepanjang perjalanan memutar lagu trance, di langit-langit kendaraannya iya memasang sebuah poster bergambar Bob Marley dengan tulisan:


PEACH & LOVE


Di bagian depan kendaraannya iya memasang papan kayu bertuliskan:


Hati-hati dompet anda.


Angkot sini gaul-gaul banget lho, rata-rata suka pasang musik keras dengan speaker besar (kayak di Pimp My Ride itu lho). Lagunya macam-macam, bisa lagu band-band major Indonesia sampai lagu Trance ngga jelas, tapi saya pernah juga ketemu angkot yang memutar lagu hip-hop.


Yang lebih mengagumkan supir-supir angkot sini sangat berteknologi tinggi, walaupun kebanyakan mereka memutar lagu dengan kaset, tapi ada juga yang memutar lagu dengan flashdisk, pake remote lagi.

Selasa, 04 Agustus 2009

Rumbai Experience

Hari itu adalah hari libur saya, seorang teman mengajak pergi ke Rumbai, dia ada jadwal mengajar di sana dan saya pikir lumayan juga jalan-jalan, saya juga penasaran seperti apa sekolah musik di sana.


Dari Pekanbaru harus lewat jembatan melewati sungai siak dulu untuk sampai ke Rumbai. Begitu sampai di seberang suasananya sangat berbeda, gersang adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan Rumbai. Pohon-pohonnya ada sih tapi tetap terasa gersang dan panas.


Sekolah musik yang kami tuju ada di dalam kompleks Chevron. Berada di dalam kompleks itu seperti masuk ke dalam SimCity dan Taman Safari, pagarnya banyak betul. Walaupun banyak pohon dan jalur hijau, tapi sengatan matahari mengalahkan semuanya.


Sebelum ke sekolah musik kami mampir ke semacam Club Housenya dan di sana ada kolam renang, kalau saya bawa baju bernang mungkin sudah lompat masuk, tapi karena tidak bawa jadi saya cuma menatap kolam renang saja.


Dari sana baru kami ke sekolah musik, begitu masuk saya serasa ada di dalam klinik dokter umum. Pintu putih, Dinding putih, AC putih dingin, perabotan kayu, harus lihat sendiri deh pokoknya.


Saya cukup senang jalan-jalan ke Rumbai, memang hampir tidak ada yang bisa dilihat sih, tapi waktu di Club House suasananya enaaaaaakkkk sekali, bisa duduk sambil lihat langit.

Minggu, 26 Juli 2009

Midnight Laughs

Mati lampu adalah issue terbesar kota Pekanbaru. Sampai saat ini saya belum terbiasa dengan mati lampu di sini, makian dan perasaan-perasaan sebal masih ada. Kalau mati lampu, saya pasti online menggunakan laptop di koridor depan kamar karena di ruang tengah ada semacam emergency lamp yang menyala.


Ternyata mba Rini juga memiliki kebiasaan yang sama dengan saya, suatu kali kami bertemu di koridor dan tertawa. Awalnya hanya saya dan mba Rini yang nongkrong di koridor kalau mati lampu, tapi kemudian bergabung mas Zul dengan laptopnya. Lama kelamaan bergabung juga mas Agus, mas Deni, mas Riki, dan Elsa. Akhirnya itu menjadi ritual setiap malam, sampai jam 12 malam kami akan bercanda, main tebak-tebakan, main sulap (mas Deni bisa sulap), dan mengobrol tentang hidup masing-masing.


Saya mensyukuri moment itu. Manusia memang tidak bisa hidup sendiri karena manusia selalu membutuhkan manusia yang lain.

Selasa, 21 Juli 2009

A Nice Coincidence

Malam ini saya makan malam di mall bersama Elsa, tapi karena Elsa ada rapat gereja jadi dia pulang duluan. Setelah membereskan bill saya beranjak pergi tiba-tiba ada yang memanggil saya, ternyata mba Rini teman satu kos. Mba Rini sedang mencari tempat untuk duduk dan bekerja (di rumah lampu mati, makanya dia cari di mall), akhirnya saya ikut bersamanya untuk duduk dan bekerja di Gloria Jean's.


Ternyata mba Rini mempunya hobi traveling dan dia pernah backpackers ke Vietnam, Thailand, dan Laos. Dia juga pernah belajar diving dan menggemari olahraga air tersebut. Saya benar-benar kagum dengan cerita-cerita perjalanannya, dan iri tentu saja. Selama ini saya dan seorang teman (pacar deng) ingin sekali pergi ke Pulau Sikuai untuk snorkling dan ternyata mba Rini sudah pernah ke sana dan dia bilang tempatnya sangat bagus, saya jadi ngiler.


Long story short saya sangat menikmati malam ini mengobrol dengan mba Rini, selain karena kita memiliki ketertarikan yang mirip, dia juga orangnya sangat ramah dan menyenangkan. Kalau bertemu orang seperti mba Rini saya jadi tidak kesepian lagi dan merasa saya akan betah di sini.

Minggu, 19 Juli 2009

The Hardest Part

Selama beberapa minggu di sini saya mengalami berbagai kejadian lucu, unik, menyebalkan, dan lain-lain. Banyak hal yang saya sadari hingga saat ini, salah satunya adalah saya merasa hidup sejak tinggal sendirian, bukan karena jauh dari orang tua jadi saya bisa seenaknya, tapi lebih karena saya mencari uang sendiri, makan uang sendiri, belanja uang sendiri, apa-apa sendiri. I think everyone should try this, it really makes you feel ALIVE.


Tapi walaupun saya merasa hidup dan baik-baik saja, saya menyadari tetap ada yang terasa berat. Ya tempat tinggalnya memang agak di bawah harapan dan standard saya, ya listriknya sering mati, ya di sini memang krisis air, ya saya memang jauh dari rumah dan segalanya tidak selalu seperti yang saya harapkan, tapi hal-hal tersebut tidak terlalu berat.


The hardest part is not about being away from home, but being away from friends and family that makes you feel like home.


I do feel lonely, sometimes.

Jumat, 17 Juli 2009

Cream Soup and Silent Hill

Sejak 2 hari yang lalu saya sakit flu dan batuk begitu kembali ke Pekanbaru dari Jakarta. Karena itu untuk sarapan saya membuat sup krim ayam instan dengan kompor listrik kecil yang saya bawa dari Jakarta. Enaaakkk sekali rasanya. Saran saya untuk para perantau, bawa kompor listrik kecil dan beli sup instan saat lagi sakit, sangat menolong.


Selesai sarapan saya berangkat mengajar, waktu menunjukkan pukul 8.30. Begitu keluar rumah saya langsung disambut dengan Real Life Silent Hill, tapi tanpa setan-setan menyeramkan. Yang saya maksud adalah kabut asap. Jarak pandang saat itu sekitar 10-15 meter, lebih dari itu yang tampak di mata adalah putih, putih, dan putih.


Saya rasa hal ini dapat menjadi iklan pariwisata yang cukup menarik dari Pekanbaru. Kurang lebih isinya begini 'If you want to experience the real life Silent Hill, come to Pekanbaru!' dengan note kecil bertuliskan 'harap membawa masker'.

Sabtu, 11 Juli 2009

Ibu

Selama 2 hari berturut-turut saya menemukan lipan di kamar mandi saya, what a nightmare. Hari pertama saya memanggil mba Ita untuk mengusir lipan tersebut dia bilang 'Injek aja, soalnya nanti juga muncul lagi.' Saya melotot mendengarnya, bisa gila saya kalo harus lihat lipan terus-terusan.


Hari kedua saya kembali memanggil mba Ita karena saya jadi tidak bisa mandi. Dia cuma menyemprot salurang pembuangan air dengan Baygon, saya tidak yakin dengan Baygon, karena masih cemas saya akhirnya menelfon Ibu di Jakarta.


Ibu menenangkan saya dan memberikan solusi. Solusinya saya buat air panas dan siram ke saluran pembuangan, lipannya pasti mati dan insyaAllah tidak balik lagi katanya. Saya lega setelah berbicara dengan Ibu, Ibu juga bilang dia akan bertanya kepada teman-temannya yang pernah tinggal di Pekanbaru untuk mencarikan tempat kos yang lebih baik daripada yang sekarang.


Ibu memang orang yang tepat untuk mengadu, saya sekarang sangat menyadari pentingnya dia. I love you, Mom.

Kamis, 09 Juli 2009

at The Gloria Jean's

Malam ini karena mati lampu saya mengungsi ke Gloria Jean's selain untuk menikmati susu coklat panas juga untuk berinternet dengan nyaman. Sempat berbincang sedikit dengan si mba di belakang mesin, ternyata dia dari Jakarta juga, sudah setahun di Pekanbaru, kebetulan yang menyenangkan.


Saat menjelang tutup tiba-tiba ada seorang bapak datang dan memesan kopi. Ini adalah conversation yang terjadi di dalam toko, mohon di catat malam ini saya satu-satunya pengunjung di situ.


Bapak : "Mba Saya minta Cappuccinonya deh."

Mba : "Baik Pak. Eh Pak mohon maaf, tapi dishwasher-nya lagi sedikit bermasalah, kalau pakai cup aja gak papa ya Pak?"

Bapak : "Gelas Bekas?" (saya dan si mba menahan tawa)

Mba : "Eh bukan Pak, pakai cup seperti untuk take away."

Bapak : "Oh ya gak papa asal bukan gelas bekas." (si bapak membalik badan menghadap saya yang sedang tertawa) "Eh tertawa dia, eh anak sd kok belum pulang?" (saya semakin tertawa).

Saya Asli Pekanbaru

Saat sedang berdiri di dalam bus, orang di belakang memanggil saya dan bertanya.


Mas : "Mbak halte kantor pos di mana ya? Saya disuruh transit di situ."

Saya : "Oh di depan sana, Mas. Nanti kelihatan kok."

Mas : "Oh ya ya. Terima kasih."

Saya : "Bukan orang sini ya?"

Mas : "Oh saya asli Pekanbaru, tapi saya baru sekali naik Trans Metro."

Selasa, 07 Juli 2009

at The Bus Stop

Sepulang kerja saya mencoba naik Trans Metro Pekanbaru lagi. Setelah membeli tiket saya duduk menunggu, tak lama setelah saya duduk si penjual tiket mengajak saya mengobrol, dia melihat saya keluar dari sekolah musik jadi dia tanya apakah saya guru musik dan saya jawab iya. Dari situ kami mulai mengobrol tentang musik.


Namanya mas Eko, dia bisa main gitar, musik favoritnya adalah blues dan jazz. Dia pernah main band tapi ga kemana-kemana bandnya jadi bubar. Dia bilang di Pekanbaru tidak ada wadah untuk orang-orang yang ingin membuat lagu yang berbeda, dulu kadang-kadang ada, tapi makin ke sini makin tidak ada. Mungkin karena sistem informasi di Pekanbaru yang masih minim, mas Eko cuma kenal musisi-musisi seperti Indra Lesmana dan Tompi, tapi saya yakin kalau dikasih Quasimode pasti naksir dia.


Bagi musisi jazz di ibukota sana mungkin bisa memberi wadah bagi musisi-musisi amatir di daerah supaya bisa lebih berkembang lagi.