Tampilkan postingan dengan label Trans Metro Pekanbaru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trans Metro Pekanbaru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2009

Saya Asli Pekanbaru

Saat sedang berdiri di dalam bus, orang di belakang memanggil saya dan bertanya.


Mas : "Mbak halte kantor pos di mana ya? Saya disuruh transit di situ."

Saya : "Oh di depan sana, Mas. Nanti kelihatan kok."

Mas : "Oh ya ya. Terima kasih."

Saya : "Bukan orang sini ya?"

Mas : "Oh saya asli Pekanbaru, tapi saya baru sekali naik Trans Metro."

Selasa, 07 Juli 2009

at The Bus Stop

Sepulang kerja saya mencoba naik Trans Metro Pekanbaru lagi. Setelah membeli tiket saya duduk menunggu, tak lama setelah saya duduk si penjual tiket mengajak saya mengobrol, dia melihat saya keluar dari sekolah musik jadi dia tanya apakah saya guru musik dan saya jawab iya. Dari situ kami mulai mengobrol tentang musik.


Namanya mas Eko, dia bisa main gitar, musik favoritnya adalah blues dan jazz. Dia pernah main band tapi ga kemana-kemana bandnya jadi bubar. Dia bilang di Pekanbaru tidak ada wadah untuk orang-orang yang ingin membuat lagu yang berbeda, dulu kadang-kadang ada, tapi makin ke sini makin tidak ada. Mungkin karena sistem informasi di Pekanbaru yang masih minim, mas Eko cuma kenal musisi-musisi seperti Indra Lesmana dan Tompi, tapi saya yakin kalau dikasih Quasimode pasti naksir dia.


Bagi musisi jazz di ibukota sana mungkin bisa memberi wadah bagi musisi-musisi amatir di daerah supaya bisa lebih berkembang lagi.

First Time 'Berangkat Kerja Naik Trans Metro Pekanbaru' Experience

Akhirnya saya mengalami berangkat mengajar naik Trans Metro Pekanbaru. Setelah tanya-tanya dengan petugas penjual tiket, dengan penuh percaya diri saya naik bus Trans.


Hari ini pengguna Trans cukup ramai, semua kursi penuh, jadi saya berdiri bersama beberapa orang lain. Di satu pemberhentian beberapa orang turun, saya pikir bapak tua yang berdiri di sebelah saya akan mencari tempat duduk, jadi saya memberi dia jalan, tapi ternyata tempat duduk yang dia tuju sudah diduduki anak kecil. Di halte berikutnya bapak tua itu turun bersama orang-orang lain dan saya dapat tempat duduk.


Dua halte setelah itu ada ibu tuna netra masuk dan saya melihat satu bus merespon keadaan fisik ibu itu. Semua berusaha membantu ibu itu masuk, memberi jalan, dan memberi tempat duduk. Baru kali ini saya melihat orang-orang di tempat umum bergerak membantu seorang yang memiliki kelemahan. Sampai saat ini saya pikir orang-orang sudah terlalu individual karena kemajuan zaman, tapi hari ini membuktikan lain.

Senin, 06 Juli 2009

The First 'Trans Metro Pekanbaru' and 'Banking' Experience

Hari ini saya tidak ada jadwal mengajar, hanya rapat guru jam 10 di Jalan Juanda. Setelah selesai rapat saya makan siang di dekat sekolah musik kemudian dengan diantar Pak Effendy saya pergi ke gerai Garuda Indonesia di Hotel Pangeran. Dari sana saya mencoba bus Trans Metro Pekanbaru.


Seperti di Jakarta, Trans Metro Pekanbaru memiliki halte khusus sendiri, cukup bersih, sederhana, dan lumayan panas (haha), bedanya letak haltenya tidak di tengah jalan tapi di pinggir kiri jalan. Prosedurnya pun sama, kita masuk halte membeli tiket seharga Rp. 3.000,- kemudian menunggu sampai busnya datang.


Busnya sendiri tidak berbeda dengan Trans Jakarta, ber-AC dan nyaman. Bedanya kalau di Jakarta ada rekaman suara wanita yang akan berkata 'Next Destination blablabla' kalau di Trans Metro Pekanbaru yang berkata begitu adalah keneknya, dia akan berteriak 'Balai Kota, ada yang turun Balai Kota?', kalau semua diam, busnya tidak jadi berhenti di Balai Kota kecuali kalau dia lihat di halte ada yang menunggu (sungguh aneh). Tidak berhenti di semua halte adalah hal yang cukup unik untuk sebuah Trans Metro menurut saya.


Turun dari bus saya masuk ke Bank Mandiri Sudirman Atas untuk menyetor uang. Begitu masuk saya langsung merasa lelah, antrian tellernya sepanjang antrian sembako. Tapi ternyata di Pekanbaru sudah ada mesin setoran tunai, antri juga sih tapi tidak sepanjang teller. Sialnya mesin itu tiba-tiba rusak, setelah agak bingung-bingung satpam menyarankan kami semua menyetor dengan mesin yang ada di Bank Mandiri Sudirman Bawah. Setelah tanya ke sana kemari lokasi tepatnya bank tersebut akhirnya saya pergi ke sana naik angkot.


Sampai di Bank Mandiri Sudirman Bawah ternyata mesin setoran tunainya ngantri juga dengan orang-orang yang sama seperti di Sudirman Atas. Ibu-ibu sebelum saya lamaaaa sekali, ternyata uangnya ditolak terus sama mesinnya. Sampai bapak-bapak di belakang saya bilang 'Bu kalau uangnya lecek, basah, terlipat dia ga mau Bu.' Akhirnya setelah beberapa lama si Ibu itu selesai dan tiba giliran saya. Saya jadi tahu kenapa Ibu itu lama, mesin sialan itu rewel sekali, berbeda dengan yang di Jakarta, cuma lusuh sedikit dia benar-benar ga mau. 4 lembar terakhir uang saya benar-benar ditolak, padahal uang-uang itu hanya lusuh sedikit.


Untuk menghibur diri saya berencana menonton film Transformers, tapi begitu mau beli tiket adanya tinggal jam 7 malam, akhirnya di sinilah saya ditemani kentang goreng dan jus apel.