Mati lampu adalah issue terbesar kota Pekanbaru. Sampai saat ini saya belum terbiasa dengan mati lampu di sini, makian dan perasaan-perasaan sebal masih ada. Kalau mati lampu, saya pasti online menggunakan laptop di koridor depan kamar karena di ruang tengah ada semacam emergency lamp yang menyala.
Ternyata mba Rini juga memiliki kebiasaan yang sama dengan saya, suatu kali kami bertemu di koridor dan tertawa. Awalnya hanya saya dan mba Rini yang nongkrong di koridor kalau mati lampu, tapi kemudian bergabung mas Zul dengan laptopnya. Lama kelamaan bergabung juga mas Agus, mas Deni, mas Riki, dan Elsa. Akhirnya itu menjadi ritual setiap malam, sampai jam 12 malam kami akan bercanda, main tebak-tebakan, main sulap (mas Deni bisa sulap), dan mengobrol tentang hidup masing-masing.
Saya mensyukuri moment itu. Manusia memang tidak bisa hidup sendiri karena manusia selalu membutuhkan manusia yang lain.
