Di minggu 37 (kontrol atas permintaan dokter), dia mengatakan pengapuran yang terjadi pada plasenta cukup cepat dan saya sama sekali belum kontraksi. Dia minta kami datang seminggu lagi.
Minggu 38 juga sama. Pengapuran berjalan cepat tanpa kontraksi, saya disuruh datang 4 hari kemudian dan kondisinya tetap sama. Lalu disuruh datang dalam 2 hari masih sama dan diulur lagi 2 hari dan tetap sama. Semua ini dilakukan dokter saya karena dari awal saya ingin sekali melahirkan normal. Akhirnya dokter memberi tenggat waktu sampai hari Minggu (2 hari dari hari kontrol terakhir).
Saya melakukan semua yang saya bisa. Squating, naik-turun tangga, dance to labour, naik mobil lewat jalan rusak, dan semua tanpa kontraksi. Akhirnya hari Minggu saya ke rumah sakit untuk CTG dan hasilnya tetap tidak ada kontraksi, cuma kontraksi palsu (Braxton-Hicks). Dokter menyarankan untuk induksi.
Induksi pertama diberikan jam 12 siang, 2 jam pertama hanya terasa sakit perut seperti sedang haid, kemudian sakit perutnya menggila dengan jeda 2 menit sekali. Jam 4 cek pembukaan dan nihil.
Induksi pertama diberikan jam 12 siang, 2 jam pertama hanya terasa sakit perut seperti sedang haid, kemudian sakit perutnya menggila dengan jeda 2 menit sekali. Jam 4 cek pembukaan dan nihil.
Induksi kedua diberikan sekitar jam 4 sore. Kontraksi terus menerus tiap 2 menit dan luar biasa sakitnya. Saya berusaha mengatur napas dan tidak mengeluarkan suara. Tapi di sela-sela saya bilang ke suami kalau saya tidak kuat lagi. Jam 8 malam dicek dan baru bukaan satu. Saya memohon kepada suami untuk operasi saja.
Dokter berusaha meyakinkan saya untuk kuat, tapi saat itu saya sudah lemas sekali dan minta dioperasi. Akhirnya jam 11 malam anak saya lahir dengan operasi Cesar.
Jujur kalau saya ingat kembali saya agak menyesal tidak cukup kuat untuk melahirkan normal dan saya masih bertekad mau melahirkan normal untuk anak kedua nanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar