Jumat, 28 Maret 2014

The Birth of Our First Child

Saya sangat ingin melahirkan normal, yakin sekali semua ibu bisa melahirkan normal. Memasuki minggu ke 36 dokter bilang kalau plasenta mulai pengapuran. Hal ini normal karena sudah dekat melahirkan jadi plasenta pelan2 mulai turun kinerjanya.

Di minggu 37 (kontrol atas permintaan dokter), dia mengatakan pengapuran yang terjadi pada plasenta cukup cepat dan saya sama sekali belum kontraksi. Dia minta kami datang seminggu lagi.

Minggu 38 juga sama. Pengapuran berjalan cepat tanpa kontraksi, saya disuruh datang 4 hari kemudian dan kondisinya tetap sama. Lalu disuruh datang dalam 2 hari masih sama dan diulur lagi 2 hari dan tetap sama. Semua ini dilakukan dokter saya karena dari awal saya ingin sekali melahirkan normal. Akhirnya dokter memberi tenggat waktu sampai hari Minggu (2 hari dari hari kontrol terakhir).

Saya melakukan semua yang saya bisa. Squating, naik-turun tangga, dance to labour, naik mobil lewat jalan rusak, dan semua tanpa kontraksi. Akhirnya hari Minggu saya ke rumah sakit untuk CTG dan hasilnya tetap tidak ada kontraksi, cuma kontraksi palsu (Braxton-Hicks). Dokter menyarankan untuk induksi.

Induksi pertama diberikan jam 12 siang, 2 jam pertama hanya terasa sakit perut seperti sedang haid, kemudian sakit perutnya menggila dengan jeda 2 menit sekali. Jam 4 cek pembukaan dan nihil.

Induksi kedua diberikan sekitar jam 4 sore. Kontraksi terus menerus tiap 2 menit dan luar biasa sakitnya. Saya berusaha mengatur napas dan tidak mengeluarkan suara. Tapi di sela-sela saya bilang ke suami kalau saya tidak kuat lagi. Jam 8 malam dicek dan baru bukaan satu. Saya memohon kepada suami untuk operasi saja.

Dokter berusaha meyakinkan saya untuk kuat, tapi saat itu saya sudah lemas sekali dan minta dioperasi. Akhirnya jam 11 malam anak saya lahir dengan operasi Cesar.

Jujur kalau saya ingat kembali saya agak menyesal tidak cukup kuat untuk melahirkan normal dan saya masih bertekad mau melahirkan normal untuk anak kedua nanti.

Selasa, 18 Maret 2014

The Pre-breastfeeding Preparation

Persiapan menyusui tidak kalah penting dengan persiapan melahirkan. Terlebih bagi calon ibu yang memiliki bentuk puting datar atau inverted. Untuk ibu-ibu yang punya waktu lebih saya sarankan baca buku Menyusui Itu Mudah. Di dalam situ ada penjelasan mendetail tentang payudara, persiapan menyusui, pijat payudara, dan cara menyusui.

Karena saya memiliki bentuk puting datar saya berkonsultasi dengan pembimbing senam hamil yaitu Ibu Penny di RSB Asih. Di usia kehamilan 37 minggu Ibu Penny mengajari saya nipple massage yang tujuannya untuk mengeluarkan puting saya agar lebih mudah menyusui. Inverted nipple bisa menyusui, hanya saja tekad dan usahanya harus lebih besar daripada ibu-ibu dengan puting normal.

Nipple massage sangat mudah dilakukan, yang harus diingat lakukan pijatan ini setelah memasuki usia kehamilan 37 minggu atau 38 kalau mau lebih aman. Karena pijatan pada puting memancing kontraksi. Berikut adalah cara melakukan nipple massage :
1. Oleskan olive oil/baby oil di areola.
2. Pijat puting dari garis areola ke arah luar.
3. Cubit keluar dan tarik puting keluar.

Karena nipple massage memancing kontraksi jadi tidak perlu sering-sering dilakukan, 2x sehari cukup.