Minggu, 26 Juli 2009

Midnight Laughs

Mati lampu adalah issue terbesar kota Pekanbaru. Sampai saat ini saya belum terbiasa dengan mati lampu di sini, makian dan perasaan-perasaan sebal masih ada. Kalau mati lampu, saya pasti online menggunakan laptop di koridor depan kamar karena di ruang tengah ada semacam emergency lamp yang menyala.


Ternyata mba Rini juga memiliki kebiasaan yang sama dengan saya, suatu kali kami bertemu di koridor dan tertawa. Awalnya hanya saya dan mba Rini yang nongkrong di koridor kalau mati lampu, tapi kemudian bergabung mas Zul dengan laptopnya. Lama kelamaan bergabung juga mas Agus, mas Deni, mas Riki, dan Elsa. Akhirnya itu menjadi ritual setiap malam, sampai jam 12 malam kami akan bercanda, main tebak-tebakan, main sulap (mas Deni bisa sulap), dan mengobrol tentang hidup masing-masing.


Saya mensyukuri moment itu. Manusia memang tidak bisa hidup sendiri karena manusia selalu membutuhkan manusia yang lain.

Selasa, 21 Juli 2009

A Nice Coincidence

Malam ini saya makan malam di mall bersama Elsa, tapi karena Elsa ada rapat gereja jadi dia pulang duluan. Setelah membereskan bill saya beranjak pergi tiba-tiba ada yang memanggil saya, ternyata mba Rini teman satu kos. Mba Rini sedang mencari tempat untuk duduk dan bekerja (di rumah lampu mati, makanya dia cari di mall), akhirnya saya ikut bersamanya untuk duduk dan bekerja di Gloria Jean's.


Ternyata mba Rini mempunya hobi traveling dan dia pernah backpackers ke Vietnam, Thailand, dan Laos. Dia juga pernah belajar diving dan menggemari olahraga air tersebut. Saya benar-benar kagum dengan cerita-cerita perjalanannya, dan iri tentu saja. Selama ini saya dan seorang teman (pacar deng) ingin sekali pergi ke Pulau Sikuai untuk snorkling dan ternyata mba Rini sudah pernah ke sana dan dia bilang tempatnya sangat bagus, saya jadi ngiler.


Long story short saya sangat menikmati malam ini mengobrol dengan mba Rini, selain karena kita memiliki ketertarikan yang mirip, dia juga orangnya sangat ramah dan menyenangkan. Kalau bertemu orang seperti mba Rini saya jadi tidak kesepian lagi dan merasa saya akan betah di sini.

Minggu, 19 Juli 2009

The Hardest Part

Selama beberapa minggu di sini saya mengalami berbagai kejadian lucu, unik, menyebalkan, dan lain-lain. Banyak hal yang saya sadari hingga saat ini, salah satunya adalah saya merasa hidup sejak tinggal sendirian, bukan karena jauh dari orang tua jadi saya bisa seenaknya, tapi lebih karena saya mencari uang sendiri, makan uang sendiri, belanja uang sendiri, apa-apa sendiri. I think everyone should try this, it really makes you feel ALIVE.


Tapi walaupun saya merasa hidup dan baik-baik saja, saya menyadari tetap ada yang terasa berat. Ya tempat tinggalnya memang agak di bawah harapan dan standard saya, ya listriknya sering mati, ya di sini memang krisis air, ya saya memang jauh dari rumah dan segalanya tidak selalu seperti yang saya harapkan, tapi hal-hal tersebut tidak terlalu berat.


The hardest part is not about being away from home, but being away from friends and family that makes you feel like home.


I do feel lonely, sometimes.

Jumat, 17 Juli 2009

Cream Soup and Silent Hill

Sejak 2 hari yang lalu saya sakit flu dan batuk begitu kembali ke Pekanbaru dari Jakarta. Karena itu untuk sarapan saya membuat sup krim ayam instan dengan kompor listrik kecil yang saya bawa dari Jakarta. Enaaakkk sekali rasanya. Saran saya untuk para perantau, bawa kompor listrik kecil dan beli sup instan saat lagi sakit, sangat menolong.


Selesai sarapan saya berangkat mengajar, waktu menunjukkan pukul 8.30. Begitu keluar rumah saya langsung disambut dengan Real Life Silent Hill, tapi tanpa setan-setan menyeramkan. Yang saya maksud adalah kabut asap. Jarak pandang saat itu sekitar 10-15 meter, lebih dari itu yang tampak di mata adalah putih, putih, dan putih.


Saya rasa hal ini dapat menjadi iklan pariwisata yang cukup menarik dari Pekanbaru. Kurang lebih isinya begini 'If you want to experience the real life Silent Hill, come to Pekanbaru!' dengan note kecil bertuliskan 'harap membawa masker'.

Sabtu, 11 Juli 2009

Ibu

Selama 2 hari berturut-turut saya menemukan lipan di kamar mandi saya, what a nightmare. Hari pertama saya memanggil mba Ita untuk mengusir lipan tersebut dia bilang 'Injek aja, soalnya nanti juga muncul lagi.' Saya melotot mendengarnya, bisa gila saya kalo harus lihat lipan terus-terusan.


Hari kedua saya kembali memanggil mba Ita karena saya jadi tidak bisa mandi. Dia cuma menyemprot salurang pembuangan air dengan Baygon, saya tidak yakin dengan Baygon, karena masih cemas saya akhirnya menelfon Ibu di Jakarta.


Ibu menenangkan saya dan memberikan solusi. Solusinya saya buat air panas dan siram ke saluran pembuangan, lipannya pasti mati dan insyaAllah tidak balik lagi katanya. Saya lega setelah berbicara dengan Ibu, Ibu juga bilang dia akan bertanya kepada teman-temannya yang pernah tinggal di Pekanbaru untuk mencarikan tempat kos yang lebih baik daripada yang sekarang.


Ibu memang orang yang tepat untuk mengadu, saya sekarang sangat menyadari pentingnya dia. I love you, Mom.

Kamis, 09 Juli 2009

at The Gloria Jean's

Malam ini karena mati lampu saya mengungsi ke Gloria Jean's selain untuk menikmati susu coklat panas juga untuk berinternet dengan nyaman. Sempat berbincang sedikit dengan si mba di belakang mesin, ternyata dia dari Jakarta juga, sudah setahun di Pekanbaru, kebetulan yang menyenangkan.


Saat menjelang tutup tiba-tiba ada seorang bapak datang dan memesan kopi. Ini adalah conversation yang terjadi di dalam toko, mohon di catat malam ini saya satu-satunya pengunjung di situ.


Bapak : "Mba Saya minta Cappuccinonya deh."

Mba : "Baik Pak. Eh Pak mohon maaf, tapi dishwasher-nya lagi sedikit bermasalah, kalau pakai cup aja gak papa ya Pak?"

Bapak : "Gelas Bekas?" (saya dan si mba menahan tawa)

Mba : "Eh bukan Pak, pakai cup seperti untuk take away."

Bapak : "Oh ya gak papa asal bukan gelas bekas." (si bapak membalik badan menghadap saya yang sedang tertawa) "Eh tertawa dia, eh anak sd kok belum pulang?" (saya semakin tertawa).

Saya Asli Pekanbaru

Saat sedang berdiri di dalam bus, orang di belakang memanggil saya dan bertanya.


Mas : "Mbak halte kantor pos di mana ya? Saya disuruh transit di situ."

Saya : "Oh di depan sana, Mas. Nanti kelihatan kok."

Mas : "Oh ya ya. Terima kasih."

Saya : "Bukan orang sini ya?"

Mas : "Oh saya asli Pekanbaru, tapi saya baru sekali naik Trans Metro."

Selasa, 07 Juli 2009

at The Bus Stop

Sepulang kerja saya mencoba naik Trans Metro Pekanbaru lagi. Setelah membeli tiket saya duduk menunggu, tak lama setelah saya duduk si penjual tiket mengajak saya mengobrol, dia melihat saya keluar dari sekolah musik jadi dia tanya apakah saya guru musik dan saya jawab iya. Dari situ kami mulai mengobrol tentang musik.


Namanya mas Eko, dia bisa main gitar, musik favoritnya adalah blues dan jazz. Dia pernah main band tapi ga kemana-kemana bandnya jadi bubar. Dia bilang di Pekanbaru tidak ada wadah untuk orang-orang yang ingin membuat lagu yang berbeda, dulu kadang-kadang ada, tapi makin ke sini makin tidak ada. Mungkin karena sistem informasi di Pekanbaru yang masih minim, mas Eko cuma kenal musisi-musisi seperti Indra Lesmana dan Tompi, tapi saya yakin kalau dikasih Quasimode pasti naksir dia.


Bagi musisi jazz di ibukota sana mungkin bisa memberi wadah bagi musisi-musisi amatir di daerah supaya bisa lebih berkembang lagi.

???

Saat di perjalanan berangkat kerja, bus Trans Metro Pekanbaru melewati restoran fast food ayam yang terkenal dengan si bapak kolonelnya. Di depan restoran mereka memasang spanduk bertuliskan 'MARI KITA IKUT AMBIL BAGIAN DALAM GERAKAN CINTA PRODUK DALAM NEGERI' dengan logo restoran tersebut.


Apakah saya ketinggalan berita? Apa negara kita ini sudah diambil alih oleh negara adikuasa? Atau ternyata Indonesia diam-diam mengambil alih negara adikuasa? Atau memang sudah terjadi salah kaprah luar biasa dalam benak orang yang memasang spanduk tersebut?

First Time 'Berangkat Kerja Naik Trans Metro Pekanbaru' Experience

Akhirnya saya mengalami berangkat mengajar naik Trans Metro Pekanbaru. Setelah tanya-tanya dengan petugas penjual tiket, dengan penuh percaya diri saya naik bus Trans.


Hari ini pengguna Trans cukup ramai, semua kursi penuh, jadi saya berdiri bersama beberapa orang lain. Di satu pemberhentian beberapa orang turun, saya pikir bapak tua yang berdiri di sebelah saya akan mencari tempat duduk, jadi saya memberi dia jalan, tapi ternyata tempat duduk yang dia tuju sudah diduduki anak kecil. Di halte berikutnya bapak tua itu turun bersama orang-orang lain dan saya dapat tempat duduk.


Dua halte setelah itu ada ibu tuna netra masuk dan saya melihat satu bus merespon keadaan fisik ibu itu. Semua berusaha membantu ibu itu masuk, memberi jalan, dan memberi tempat duduk. Baru kali ini saya melihat orang-orang di tempat umum bergerak membantu seorang yang memiliki kelemahan. Sampai saat ini saya pikir orang-orang sudah terlalu individual karena kemajuan zaman, tapi hari ini membuktikan lain.

Senin, 06 Juli 2009

The First 'Trans Metro Pekanbaru' and 'Banking' Experience

Hari ini saya tidak ada jadwal mengajar, hanya rapat guru jam 10 di Jalan Juanda. Setelah selesai rapat saya makan siang di dekat sekolah musik kemudian dengan diantar Pak Effendy saya pergi ke gerai Garuda Indonesia di Hotel Pangeran. Dari sana saya mencoba bus Trans Metro Pekanbaru.


Seperti di Jakarta, Trans Metro Pekanbaru memiliki halte khusus sendiri, cukup bersih, sederhana, dan lumayan panas (haha), bedanya letak haltenya tidak di tengah jalan tapi di pinggir kiri jalan. Prosedurnya pun sama, kita masuk halte membeli tiket seharga Rp. 3.000,- kemudian menunggu sampai busnya datang.


Busnya sendiri tidak berbeda dengan Trans Jakarta, ber-AC dan nyaman. Bedanya kalau di Jakarta ada rekaman suara wanita yang akan berkata 'Next Destination blablabla' kalau di Trans Metro Pekanbaru yang berkata begitu adalah keneknya, dia akan berteriak 'Balai Kota, ada yang turun Balai Kota?', kalau semua diam, busnya tidak jadi berhenti di Balai Kota kecuali kalau dia lihat di halte ada yang menunggu (sungguh aneh). Tidak berhenti di semua halte adalah hal yang cukup unik untuk sebuah Trans Metro menurut saya.


Turun dari bus saya masuk ke Bank Mandiri Sudirman Atas untuk menyetor uang. Begitu masuk saya langsung merasa lelah, antrian tellernya sepanjang antrian sembako. Tapi ternyata di Pekanbaru sudah ada mesin setoran tunai, antri juga sih tapi tidak sepanjang teller. Sialnya mesin itu tiba-tiba rusak, setelah agak bingung-bingung satpam menyarankan kami semua menyetor dengan mesin yang ada di Bank Mandiri Sudirman Bawah. Setelah tanya ke sana kemari lokasi tepatnya bank tersebut akhirnya saya pergi ke sana naik angkot.


Sampai di Bank Mandiri Sudirman Bawah ternyata mesin setoran tunainya ngantri juga dengan orang-orang yang sama seperti di Sudirman Atas. Ibu-ibu sebelum saya lamaaaa sekali, ternyata uangnya ditolak terus sama mesinnya. Sampai bapak-bapak di belakang saya bilang 'Bu kalau uangnya lecek, basah, terlipat dia ga mau Bu.' Akhirnya setelah beberapa lama si Ibu itu selesai dan tiba giliran saya. Saya jadi tahu kenapa Ibu itu lama, mesin sialan itu rewel sekali, berbeda dengan yang di Jakarta, cuma lusuh sedikit dia benar-benar ga mau. 4 lembar terakhir uang saya benar-benar ditolak, padahal uang-uang itu hanya lusuh sedikit.


Untuk menghibur diri saya berencana menonton film Transformers, tapi begitu mau beli tiket adanya tinggal jam 7 malam, akhirnya di sinilah saya ditemani kentang goreng dan jus apel.

Minggu, 05 Juli 2009

Facebook Kills Moms

Masih di Gloria Jean's di depan saya ada suami istri sedang bermain laptop sendiri-sendiri. Tak lama datang 3 anak kecil dengan 3 suster yang berbeda masing-masing memegang mobil-mobilan.


3 anak bermain mobil-mobilan di Toy's City bersama 3 suster yang berbeda. Dan apa yang dilakukan sang ibu?


Bermain facebook.

Mati Lampu

Saat ini saya ada di Gloria Jean's minum coklat panas sambil berwifi dan datanglah si tamu tak diundang yaitu mati lampu. Tamu tak diundang ini yang memang sudah merupakan rutinitas di Pekanbaru sangat sangat menyebalkan. 


Tadi sore setelah mengobrol dengan beberapa teman sesama guru saya jadi tahu kalau Pekanbaru tidak memiliki pembangkit listrik sendiri, melainkan menumpang dengan propinsi di sekitarnya, makanya di sini hobi sekali mati lampu.


Yang mengherankan adalah Pekanbaru pertumbuhan ekonominya cukup maju, tapi kenapa serba susah. Listrik susah, air susah, internet juga masih jarang-jarang. Yah kepada anda-anda yang berada di atas sana tolong ya bekerja lebih keras lagi supaya kota ini semakin maju di segala bidang.

Usir Itu

Beberapa bulan lalu teman baik saya mita pergi ke Bali, dia cerita di sana dia tinggal di tempat kos dan menemukan kecoa di dalam kamarnya yang membuat dia histeris dan merepotkan seorang teman lain. Saya mentertawakan ceritanya sambil meledeknya penakut. Hari ini saya mendapat karmanya.


Ada kecoa besar di kamar mandi saya.


Saya terpaksa merepotkan teman 1 kos saya bernama mas Riki karena saya takut mengusirnya.



PS: Sorry Mimita aku janji ga bakal ngeledek lagi.

Sabtu, 04 Juli 2009

Tiada Hari Tanpa Bekerja

Untuk sampai ke sekolah musik saya harus menyusuri Jalan Sudirman yang lumayan panjang, dekat perpustakaan di tengah pembatas jalan terdapat banyak plang-plang iklan. salah satunya bertuliskan 'Tiada Hari Tanpa Bekerja'.


Kalimat itu cukup menggelitik, sangat masuk akal kalau orang Pekanbaru pikirannya hanya bekerja, habis memang tidak ada hiburan lain selain bekerja. Kalau dipikir-pikir nampaknya yang mengarang kalimat itu mau curhat.

The First 'Kabut Asap' Experience

Saat saya terbang ke Pekanbaru tanggal 3 Juli kemarin, sesaat sebelum siap-siap landing saya melihat asap dan warna merah kecil di daratan bawah sana. Waktu itu saya bertanya-tanya itu apa ya? kebakaran? pabrik? salah lihat? Hanya sampai situ pemikiran saya.


Hari ini saya mendapat jawabannya, ternyata itu adalah kebakaran hutan. Saya mendapat jawabannya saat berangkat mengajar, begitu keluar dari tempat kos saya melihat kabut menggantung di langit, semakin lama semakin pekat. Sampai ke sekolah musik saya diperkenalkan pada si 'Kabut Asap' yang kadang sampai mengganggu negara tetangga ini.



PS: Saat ini selain mati lampu 3 kali sehari, di Pekanbaru juga sedang terjadi krisis air bersih, untungnya tempat tinggal saya sumber airnya bukan hanya PAM.

La La La Dengarlah

Tanggal 15 Juli nanti saya ada seminar lagi, untuk itu saya harus melatih beberapa lagu yang sudah menjadi tugas saya. Jujur saja saat ini saya agak stress menghafal lagu-lagu tersebut, nampaknya otak saya sudah bumpet, tidak bisa dimasukkan lagu-lagu lagi, kalau pakai bahasa Friendster nama saya pasti sudah berubah jadi ANIKA FULL.

Graffiti

Untuk pertama kalinya saya melihat graffiti di Pekanbaru, tepatnya di tembok belakang sebuah ruko. Saya melihatnya karena kebetulan tempat saya makan siang jendelanya pas menghadap ke situ.


Graffitinya cukup bagus, biasa saja sih sebenarnya, saya tidak tahu bacanya apa, terdiri dari 2 warna biru dan hitam. Di sebelahnya terdapat 'nama-nama keren' dari sang pembuat, tapi yang paling menarik adalah setelah deretan 'nama-nama keren' tersebut terdapat gambar tengkorak dan di sampingnya ditulis 'We Not EMO'. Bagi saya tulisan tersebut justru makin menegaskan ke-EMO-an mereka.

Jumat, 03 Juli 2009

Saya Lapar Sekali

Selesai sudah seminar 2 hari di Jakarta, saat ini saya sedang menunggu pesawat di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta. Sebelumnya saya makan di Koufu Food Mall deket pintu masuk gate 3 setelah check-in. Karena seharian ini saya seminar ditambah lagi dengan waktu tidur yang agak kurang karena dipakai mengerjakan beberapa tugas, saya cuma sempat sarapan ayam dan tidak makan atau ngemil apa-apa lagi setelah itu, jadi boleh dibilang saya cukup lapar. 


Makanan di Koufu sangat enak walaupun dengan harga yang cukup ehem (namanya juga di bandara). Saya makan chicken katsu plu tempura udon (agak bablas sedikit, porsinya besar lagi). Enak sekali. Selama saya makan saya mendapat tatapan aneh dari para penjaga counter di situ. Saya membalas tatapan mereka dengan tatapan 'Saya Lapar Sekali!' dan meneruskan makan.

Rabu, 01 Juli 2009

Sultan Syarif Qasim Airport - Pekanbaru

Saat ini saya sedang berada di ruang tunggu keberangkatan di Sultan Syarif Qasim Airport, Pekanbaru. Karena saya pernah ke Batam dan melihat Hang Nadim Airport saya tidak begitu kaget melihat ruang tunggu yang cukup sederhana ini, tapi menurut saya masih mendingan ruang tunggu airport sini daripada di Batam sana. Di sini semua gate 1 ruang tunggu jadi ramai sekali.


Ngomong-ngomong saya ketemu pria yang ada di pesawat yang sama saat saya berangkat dari Jakarta ke Pekanbaru. Umurnya mungkin akhir 20an, cukup fashionable dan yang paling mencolok dia menenteng-nenteng tas belanja Metro, nampaknya dia sayang sekali sama tas belanja itu. Cukup ganteng lho, ketemu 2 kali lagi, siapa tahu jodoh. Ups! Sorry bacum kamu tetap yang nomor 1 kok, hihi.

Internet

Saya masih menggunakan Axis, untuk sekedar chatting cukup murah, tapi masih mencari untuk download-download. Kata Mas Irfan kalau mau download di foodcourt Mall Pekanbaru saja. Saran yang cukup menggiurkan, mungkin akan saya coba kapan-kapan.


Buat yang punya info koneksi internet portable dengan harga murah beritahu saya ya. I'm in desperate need of a good internet connection.

First Day Teaching

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, mengajar piano klasik untuk pertama kalinya di Pekanbaru. Dari beberapa murid yang dijadwalkan untuk menjadi murid saya hanya satu yang muncul, maklum hampir semua murid masih liburan.


Untuk pertama kalinya pula saya naik angkot di sini. Angkot merupakan alat transportasi yang cukup ekonomis di sini tarifnya Rp. 2.000,-. Lain hal dengan taksi, di sini taksi tidak pakai argo, argonya ada tapi cuma mejeng saja di dashboard, bisa dibayangkan kan kalau pendatang baru pasti diberi tarif mahal. Setelah naik angkot saya berjalan kaki sekitar 100 meter, jaraknya dekat tapi di sini panas, jadi lumayan cape juga.


Sebelum mengalami kelas pertama saya sempat rapat dulu dengan guru-guru yang menjadi panitia suatu acara yang akan diadakan sekolah musik tempat saya bekerja. Saya berkenalan dengan Bu Linda, Bu Sriwati, Bu Yayat, Mba Esa, Mba Sulastri, Mas Hendra, Pak Lexi, dan Mas Irfan yang juga merupakan staff pengajar dari berbagai bidang di sini. Juga ada Pak Khaerudin yang merupakan penanggung jawab.


Murid pertama saya bernama Rani, baru masuk kelas 1 SMA dan nampaknya cukup pemalu, atau mungkin karena pertama kali ketemu saya. Agak lelet juga saya dalam mengingat kurikulum sampai akhirnya saya buka contekan yaitu buku syllabus.


Sejauh ini kehidupan saya di sini cukup menyenangkan, kecuali bagian tidak bisa latihan pianonya. Di sekolah musik boleh latihan tapi tidak boleh pakai ac dan hanya kalau kelasnya kosong, belum lagi jarak dari tempat tinggal ke sekolah musik lumayan jauh. Malam ini saya pulang ke Jakarta untuk seminar 2 hari, mungkin saya akan membawa keyboard saya ke sini supaya bisa latihan dengan tenang.


PS: Restoran di sini tidak mencantumkan harga makanan di menunya, jadi pas bayar agak kaget. Masa saya makan mie goreng telur dan minum es teh manis totalnya Rp. 10.000,-? Mienya mie instant lho.