Minggu, 05 Juli 2009

Mati Lampu

Saat ini saya ada di Gloria Jean's minum coklat panas sambil berwifi dan datanglah si tamu tak diundang yaitu mati lampu. Tamu tak diundang ini yang memang sudah merupakan rutinitas di Pekanbaru sangat sangat menyebalkan. 


Tadi sore setelah mengobrol dengan beberapa teman sesama guru saya jadi tahu kalau Pekanbaru tidak memiliki pembangkit listrik sendiri, melainkan menumpang dengan propinsi di sekitarnya, makanya di sini hobi sekali mati lampu.


Yang mengherankan adalah Pekanbaru pertumbuhan ekonominya cukup maju, tapi kenapa serba susah. Listrik susah, air susah, internet juga masih jarang-jarang. Yah kepada anda-anda yang berada di atas sana tolong ya bekerja lebih keras lagi supaya kota ini semakin maju di segala bidang.

Usir Itu

Beberapa bulan lalu teman baik saya mita pergi ke Bali, dia cerita di sana dia tinggal di tempat kos dan menemukan kecoa di dalam kamarnya yang membuat dia histeris dan merepotkan seorang teman lain. Saya mentertawakan ceritanya sambil meledeknya penakut. Hari ini saya mendapat karmanya.


Ada kecoa besar di kamar mandi saya.


Saya terpaksa merepotkan teman 1 kos saya bernama mas Riki karena saya takut mengusirnya.



PS: Sorry Mimita aku janji ga bakal ngeledek lagi.

Sabtu, 04 Juli 2009

Tiada Hari Tanpa Bekerja

Untuk sampai ke sekolah musik saya harus menyusuri Jalan Sudirman yang lumayan panjang, dekat perpustakaan di tengah pembatas jalan terdapat banyak plang-plang iklan. salah satunya bertuliskan 'Tiada Hari Tanpa Bekerja'.


Kalimat itu cukup menggelitik, sangat masuk akal kalau orang Pekanbaru pikirannya hanya bekerja, habis memang tidak ada hiburan lain selain bekerja. Kalau dipikir-pikir nampaknya yang mengarang kalimat itu mau curhat.

The First 'Kabut Asap' Experience

Saat saya terbang ke Pekanbaru tanggal 3 Juli kemarin, sesaat sebelum siap-siap landing saya melihat asap dan warna merah kecil di daratan bawah sana. Waktu itu saya bertanya-tanya itu apa ya? kebakaran? pabrik? salah lihat? Hanya sampai situ pemikiran saya.


Hari ini saya mendapat jawabannya, ternyata itu adalah kebakaran hutan. Saya mendapat jawabannya saat berangkat mengajar, begitu keluar dari tempat kos saya melihat kabut menggantung di langit, semakin lama semakin pekat. Sampai ke sekolah musik saya diperkenalkan pada si 'Kabut Asap' yang kadang sampai mengganggu negara tetangga ini.



PS: Saat ini selain mati lampu 3 kali sehari, di Pekanbaru juga sedang terjadi krisis air bersih, untungnya tempat tinggal saya sumber airnya bukan hanya PAM.

La La La Dengarlah

Tanggal 15 Juli nanti saya ada seminar lagi, untuk itu saya harus melatih beberapa lagu yang sudah menjadi tugas saya. Jujur saja saat ini saya agak stress menghafal lagu-lagu tersebut, nampaknya otak saya sudah bumpet, tidak bisa dimasukkan lagu-lagu lagi, kalau pakai bahasa Friendster nama saya pasti sudah berubah jadi ANIKA FULL.

Graffiti

Untuk pertama kalinya saya melihat graffiti di Pekanbaru, tepatnya di tembok belakang sebuah ruko. Saya melihatnya karena kebetulan tempat saya makan siang jendelanya pas menghadap ke situ.


Graffitinya cukup bagus, biasa saja sih sebenarnya, saya tidak tahu bacanya apa, terdiri dari 2 warna biru dan hitam. Di sebelahnya terdapat 'nama-nama keren' dari sang pembuat, tapi yang paling menarik adalah setelah deretan 'nama-nama keren' tersebut terdapat gambar tengkorak dan di sampingnya ditulis 'We Not EMO'. Bagi saya tulisan tersebut justru makin menegaskan ke-EMO-an mereka.

Jumat, 03 Juli 2009

Saya Lapar Sekali

Selesai sudah seminar 2 hari di Jakarta, saat ini saya sedang menunggu pesawat di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta. Sebelumnya saya makan di Koufu Food Mall deket pintu masuk gate 3 setelah check-in. Karena seharian ini saya seminar ditambah lagi dengan waktu tidur yang agak kurang karena dipakai mengerjakan beberapa tugas, saya cuma sempat sarapan ayam dan tidak makan atau ngemil apa-apa lagi setelah itu, jadi boleh dibilang saya cukup lapar. 


Makanan di Koufu sangat enak walaupun dengan harga yang cukup ehem (namanya juga di bandara). Saya makan chicken katsu plu tempura udon (agak bablas sedikit, porsinya besar lagi). Enak sekali. Selama saya makan saya mendapat tatapan aneh dari para penjaga counter di situ. Saya membalas tatapan mereka dengan tatapan 'Saya Lapar Sekali!' dan meneruskan makan.

Rabu, 01 Juli 2009

Sultan Syarif Qasim Airport - Pekanbaru

Saat ini saya sedang berada di ruang tunggu keberangkatan di Sultan Syarif Qasim Airport, Pekanbaru. Karena saya pernah ke Batam dan melihat Hang Nadim Airport saya tidak begitu kaget melihat ruang tunggu yang cukup sederhana ini, tapi menurut saya masih mendingan ruang tunggu airport sini daripada di Batam sana. Di sini semua gate 1 ruang tunggu jadi ramai sekali.


Ngomong-ngomong saya ketemu pria yang ada di pesawat yang sama saat saya berangkat dari Jakarta ke Pekanbaru. Umurnya mungkin akhir 20an, cukup fashionable dan yang paling mencolok dia menenteng-nenteng tas belanja Metro, nampaknya dia sayang sekali sama tas belanja itu. Cukup ganteng lho, ketemu 2 kali lagi, siapa tahu jodoh. Ups! Sorry bacum kamu tetap yang nomor 1 kok, hihi.

Internet

Saya masih menggunakan Axis, untuk sekedar chatting cukup murah, tapi masih mencari untuk download-download. Kata Mas Irfan kalau mau download di foodcourt Mall Pekanbaru saja. Saran yang cukup menggiurkan, mungkin akan saya coba kapan-kapan.


Buat yang punya info koneksi internet portable dengan harga murah beritahu saya ya. I'm in desperate need of a good internet connection.

First Day Teaching

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, mengajar piano klasik untuk pertama kalinya di Pekanbaru. Dari beberapa murid yang dijadwalkan untuk menjadi murid saya hanya satu yang muncul, maklum hampir semua murid masih liburan.


Untuk pertama kalinya pula saya naik angkot di sini. Angkot merupakan alat transportasi yang cukup ekonomis di sini tarifnya Rp. 2.000,-. Lain hal dengan taksi, di sini taksi tidak pakai argo, argonya ada tapi cuma mejeng saja di dashboard, bisa dibayangkan kan kalau pendatang baru pasti diberi tarif mahal. Setelah naik angkot saya berjalan kaki sekitar 100 meter, jaraknya dekat tapi di sini panas, jadi lumayan cape juga.


Sebelum mengalami kelas pertama saya sempat rapat dulu dengan guru-guru yang menjadi panitia suatu acara yang akan diadakan sekolah musik tempat saya bekerja. Saya berkenalan dengan Bu Linda, Bu Sriwati, Bu Yayat, Mba Esa, Mba Sulastri, Mas Hendra, Pak Lexi, dan Mas Irfan yang juga merupakan staff pengajar dari berbagai bidang di sini. Juga ada Pak Khaerudin yang merupakan penanggung jawab.


Murid pertama saya bernama Rani, baru masuk kelas 1 SMA dan nampaknya cukup pemalu, atau mungkin karena pertama kali ketemu saya. Agak lelet juga saya dalam mengingat kurikulum sampai akhirnya saya buka contekan yaitu buku syllabus.


Sejauh ini kehidupan saya di sini cukup menyenangkan, kecuali bagian tidak bisa latihan pianonya. Di sekolah musik boleh latihan tapi tidak boleh pakai ac dan hanya kalau kelasnya kosong, belum lagi jarak dari tempat tinggal ke sekolah musik lumayan jauh. Malam ini saya pulang ke Jakarta untuk seminar 2 hari, mungkin saya akan membawa keyboard saya ke sini supaya bisa latihan dengan tenang.


PS: Restoran di sini tidak mencantumkan harga makanan di menunya, jadi pas bayar agak kaget. Masa saya makan mie goreng telur dan minum es teh manis totalnya Rp. 10.000,-? Mienya mie instant lho.