Minggu, 19 Januari 2014

The Baby List

Saya tidak membuat acara nujuh bulanan atau pun baby shower, tapi saya membuat list barang-barang yang saya inginkan. Memasuki minggu ke-28 kami sibuk browsing kebutuhan bayi.

Karena anak kakak saya laki-laki dan jaraknya hanya 1.5 tahun lebih tua, kami mendapat banyak sekali lungsuran baju yang masih bagus, bahkan ada yang masih baru. Boleh dibilang lemari pakaian termasuk popok kain, bedong, dan kain-kain besar lainnya langsung terisi penuh.

Suatu hari saya survey barang diantar Bapak saya. Hari itu sebenarnya saya sudah mau beli stroller, tapi distop oleh Bapak. Bapak bilang saya tidak perlu beli sekarang, tunggu seminggu setelah melahirkan kalau memang tidak ada yang kasih baru beli. Jadi saya masukkan kembali kartu debit saya dan mengikuti sarannya.

Baby list saya buat berdasarkan What To Expect dan BabyCenter. Kedua website ini lumayan paling sering saya kunjungi. 

Mengenai saran Bapak saya tidak ada salahnya diikuti, karena terbukti setelah seminggu hadiah yang datang begitu banyak sampai satu-satunya kebutuhan bayi yang saya beli hanyalah baby crib. Saya beli seharga 1 juta lebih sedikit di TokoFurnitureOnline. Jangan lupa selalu info ke teman-teman yang bertanya benda apa yang anda belum punya, untuk menghindari hadiah double.

Selalu survey barang yang anda butuh. Misalnya stroller, cari tahu fungsi, harga, dan bandingkan semuanya. Tanya diri anda sendiri. Apakah butuh? Apakah tahan lama? Apakah sesuai dengan budget? Sampai berapa lama kira-kira akan digunakan? Cari sebanyak-banyaknya informasi dan review. Tak perlu terlalu terpatok dengan orang lain, karena dia beli maka saya beli. Karena situasi masing-masing keluarga berbeda. Belilah barang yang sesuai dengan situasi rumah, finansial, dan kebutuhan anda.

Happy shopping mommies! 

The Working Mom vs Stay-at-home Mom Dilemma

Mana yang lebih baik? Ibu bekerja? Ibu di rumah? Jawabannya kembali lagi ke diri kita sendiri.

Pernah saya lagi membaca-baca twitter dan menemukan banyak ibu berdebat soal hal ini, masing-masing bersikukuh kalau apa yang mereka jalani itu jawaban yang tepat. Ibu bekerja meremehkan ibu di rumah, ibu di rumah meremehkan ibu bekerja.

Bagi saya keputusan menjadi ibu bekerja atau ibu di rumah itu tergantung situasi keluarga. Apakah single income cukup? Apakah mampu bayar pengasuh? Siapkah meninggalkan anak dalam waktu lama? Siapkah sibuk mengurus anak seharian sampai tidak sempat berbenah diri? Banyak pertanyaan yang saya renungkan sebelum mengambil keputusan.

Ibu di rumah tolong jangan menghakimi ibu bekerja. Ibu bekerja juga sebenarnya tidak mau meninggalkan anaknya di rumah dengan pengasuh, tapi mungkin mereka memang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Sebaliknya ibu bekerja, ibu di rumah bukannya pemalas, mereka juga mengurus anak sampai kelelahan di rumah.

Bagaimana dengan saya? Setelah bertarung di dalam pikiran sendiri dan sempat tidak bisa tidur, saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Sekitar sebulan menjelang kelahiran saya resmi berhenti bekerja dan memutuskan akan merawat anak saya tanpa pembantu atau pengasuh.

Saya pikir kalau tidak bekerja saya akan punya banyak waktu merawat anak dan bisa istirahat. Betapa naifnya saya. 

Sabtu, 18 Januari 2014

The Gender

Memasuki bulan kelima, dokter saya bilang kita sudah bisa cari tahu gender bayinya. Saya dan suami tidak sabar ingin tahu gendernya.

Minggu ke-23 dokter saya mengatakan kemungkinan perempuan, tidak yakin karena posisi bayi menutupi, tapi masih bisa berubah jadi laki-laki. Sebenernya bukannya dia bisa berubah gender, hanya saja membaca usg tergantung posisi bayinya.

Saya ingin anak saya selalu ingat dari mana dia berasal, karena itu saya mencari nama Indonesia (khususnya Jawa). Akhirnya saya meminjam buku Kamus Besar Jawa Kuna milik teman saya dan sibuk mencari-cari nama. Setelah sebulan saya dapat nama yang suami juga suka.

Minggu ke 27 kami kembali kontrol dan dokter kembali memeriksa gendernya. Ternyata bayi saya laki-laki! Saya dan suami berpandangan dan akhirnya sibuk kembali dengan si Kamus Besar.

Cari nama anak laki-laki ternyata lebih susah. Kepala saya ternyata penuh dengan nama perempuan. Bahkan sampai sudah mau lahir kami masih sibuk berdebat soal nama. Akhirnya setelah perdebatan yang panjang kami sepakat dengan sebuah nama yang artinya 'kuat'. Semoga anak ini jadi anak yang kuat kepribadian, kuat iman, dan kuat kasih sayang untuk orang tuanya.

The Babymoon

"Sering-sering ngedate ya, bapak-ibu." Ini mungkin pesan dokter saya yang paling penting setelah pesan-pesan medik. Kebetulan sebelum hamil kita berdua sudah ada rencana ke Bali. Jadi saat kehamilan saya sekitar 12 minggu kita liburan.

Paling aman ibu hamil naik pesawat saat trisemester kedua. Umumya maskapai tidak mengizinkan ibu terbang saat kehamilan sudah masuk 30 minggu. Kenapa? Karena turbulensi bisa membuat ibu kontraksi. Sebagai ibu hamil yang akan terbang anda harus siap dengan surat pengantar dokter, apalagi kalau kehamilannya sudah mulai membesar.

Apa yang menyenangkan dilakukan di Bali? Jalan kaki tepat sekali. Hal yang tidak pernah saya lakukan di Jakarta tapi sangat menyenangkan dilakukan di Seminyak. Hanya satu yang agak menghambat, ibu hamil tidak boleh cape. Setelah jalan kaki mungkin sejauh 3 km, saya flek. Akhirnya liburan a la anak muda terpaksa diganti jadi liburan a la ibu hamil. Pagi sampai siang pergi lalu kembali ke rumah untuk tidur siang, keluar lagi sore sampai jam 9 malam. I feel old.


The Pregnancy pt. 2

Sewaktu hamil saya pernah sakit. Dulunya saya adalah bayi susu formula, sejak kecil saya selalu sakit. Flu, batuk, sakit tenggorokan, semua pernah saya alami saat sakit. Yang harus diingat adalah kalau demam sudah terlalu tinggi (>38.5 derajat Celcius) harus segera konsultasi dokter. Demam terlalu tinggi saat hamil bisa membahayakan janin.

Sembuh sendiri adalah solusi paling baik saat hamil, karena obat seberapa pun sedikitnya bisa lolos ke placenta. Tapi bukan berarti kalau sudah sangat menderita anda tidak boleh minta obat. Kalau anda flu saat hamil siap-siap saja, you're in for a sleepless night and a horrible day. Untuk hidung tersumbat saat tidur, lupakan obat tetes hidung, it doesn't work. Yang bisa anda lakukan adalah tidur dengan beberapa bantal ditumpuk (tidak hanya untuk yang sakit flu, untuk sakit punggung juga lumayan membantu). 

Teh hangat dengan lemon dan madu adalah senjata saya untuk flu dan sakit tenggorokan. Kebetulan untuk bekerja saya mengandalkan suara saya. Karena saya gampang sakit, obat seperti Rhinos dan Lemocin itu selalu ada di tas (yap sesering itu saya sakit). Tapi karena sedang hamil obat-obat itu terpaksa dibuang ke tempat sampah dan digantikan teh hangat lemon-madu. Saya tidak tahu apakah ini sugesti atau tidak, tapi minuman itu lumayan manjur untuk flu dan sakit tenggorokan.

Manjur yang saya maksud bukan sembuh dalam semalam. Sakitnya sendiri mungkin baru hilang seminggu lebih, tapi paling tidak saya merasa lebih nyaman membawa botol minum alumunium berisi teh lemon-madu.

Intinya sakit saat hamil adalah yang paling tidak nyaman, tapi jalani saja nanti juga sembuh. Jangan lupa the power of sugesti. Stay positive and be a happy pregnant lady.

The Pregnancy pt. 1

Suatu siang di penghujung tahun 2012 saya memelototi empat pen tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif. Seperti calon-calon ibu pada umumnya saya membuat janji dokter kandungan dan tersenyum lebar saat dikonfirmasi hamil.

Dokter saya bernama dr. Benny Johan Marpaung, Sp.OG. Masih muda, informatif, dan sangat ceria. Pesan yang selalu diulang-ulang dokter adalah jangan jatuh dan sering-sering ngedate sebelum bayinya lahir.

Saya pikir kehamilan selalu diikuti muntah-muntah, tapi ternyata tidak untuk saya. Selama enam minggu pertama tidak ada rasa apa-apa tapi setelah itu mulai diwarnai mual-mual. Ada teman yang bilang kalau bisa jangan sampai muntah, sekali muntah jadi kepingin muntah terus. Karena takut muntah saya sering menghabiskan waktu lama sekali untuk makan, karena hampir setiap dua suap saya mau muntah, jadi saya berhenti dulu sampai mualnya lewat baru lanjut makan. Mual-mual ini bertahan sampai masa kehamilan sekitar 16-20 minggu.

Sejak mulai hamil saya sering minta maaf kepada ibu saya. Hamil itu tidak mudah. Mual, sakit punggung, badan tidak nyaman, buang air kecil terus, sampai kontraksi saat bayi akan lahir. Semua itu tidak mudah dan tidak nyaman. Itu semua membuat saya berpikir betapa hebatnya ibu saya dan betapa saya pernah sangat tidak sopan dan kurang ajar terhadapnya, jadi saya minta maaf. Saya bersyukur saya lahir sebagai perempuan, saya diberi kesempatan untuk menjalani apa yang ibu saya alami dan menyadari kalau memang ibu saya luar biasa hebat.


24 minggu

The Annoying Question

Uda hamil belum? Kapan mau punya anak? Belum hamil juga? Mungkin musti ke dokter kali?

Pertanyaan-pertanyaan ini yang saya kategorikan annoying. Karena saya dan suami sebelum menikah menjalani long distance relationship (Jakarta-Amsterdam) selama lima tahun, kami memutuskan tidak buru-buru memiliki anak. Tapi tentu saja keputusan itu kami simpan sendiri dan orang tua (termasuk eyang-eyang) menghujani kami dengan pertanyaan annoying, karena tidak sabar ingin menggendong bayi.

Setelah punya bayi, menurut saya semua pasangan berhak menentukan sendiri kapan mereka akan punya anak. Karena walaupun punya bayi itu luar biasa membahagiakan tapi tidak bisa dipungkiri kalau ada beberapa kesenangan pribadi yang harus dimundurkan. Bukannya mau mengajak untuk mengurungkan niat punya bayi, tapi memang punya anak itu butuh kesiapan fisik dan mental (selain finansial tentunya).

Ya pertanyaan-pertanyaan ini akan menghantui anda, tapi cuek aja. You are you're own captain in this ship called life.

Jumat, 17 Januari 2014

The Wedding

Bukan, bukan pestanya yang ingin saya ceritakan. Tapi cerita di balik pesta itu sendiri. Selama delapan bulan pesta ini disiapkan, tapi saya tidak bisa bilang oleh saya, melainkan ibu saya. Yap pesta rancangan ibu saya dengan selera ibu saya. Boleh dibilang saat itu saya sebal sekali dengan ibu yang mengatur segalanya, tapi sekarang rasanya tidak penting lagi.

Pesta pernikahan biasanya ditunggu-tunggu kaum perempuan, bahkan ada yang sudah merencanakan pestanya sebelum dapat calon mempelai prianya. Saya pun sebenarnya punya mimpi sendiri tentang pesta pernikahan idaman, tapi mimpi itu harus dikubur dalam-dalam karena menurut ibu saya ini biaya dari orang tua jadi ini pesta orang tua. 

Setelah hampir tiga tahun menikah saya mulai berpikir kalau pesta pernikahan itu tidak begitu penting. Karena bukan hari pernikahannya yang paling penting tapi apa yang terjadi setelah hari pernikahan. Masih ingat pernikahan Kim Kardashian dan Kris Humphries yang menghabiskan jutaan dollar untuk kemudian bercerai 72 hari kemudian? Yap saya sangat yakin satu hari itu memang spesial tapi tidak sespesial itu sampai harus menghabiskan luar biasa banyak uang.

Yang saya dapat setelah hampir tiga tahun menikah adalah kita berdua harus sama-sama berusaha untuk tetap bersama. Saya tidak sempurna, dia juga tidak, tidak ada yang sempurna, tapi kalau kita embrace ketidaksempurnaan itu tiba-tiba hubungannya jadi terasa sempurna. Jadi yang paling penting itu bukan the Wedding tapi the Marriage.


Tiga Tahun

Tiga tahun lamanya blog ini saya lupakan. Dalam jeda tiga tahun ini hidup saya sudah sangat jauh berbeda. Sangat berbeda karena saya sudah menikah dan menjadi ibu. Sebenarnya banyak sekali cerita menarik sewaktu di Pekanbaru, tapi ceritanya sudah kadaluwarsa. Pesan saya kalau ke Pekanbaru coba road trip ke Sumatera Barat, banyak pemandangan indah sepanjang perjalanan dan makanan enak.

Setelah enam bulan berkutat mengurus bayi, akhirnya saya punya sedikit waktu luang untuk iseng-iseng menulis. Saya ingin sekali berbagi cerita menjadi ibu. Menjadi ibu itu luar biasa menyenangkan walaupun kadang melelahkan sampai mau pingsan.

New Plan! Blog ini akan saya isi informasi tentang menjadi ibu. Semoga membantu para mother-to-be atau yang baru jadi ibu.

Kamis, 06 Januari 2011

The Sincerest Apology

Waw! Sudah setahun lebih saya tidak menulis. Ok sejujurnya saya bukan tipe penulis memang, saya mulai menulis di Pekanbaru dan itu pun karena saya tidak punya banyak teman di sana. Tapi mulai bulan Oktober 2009 saya menemukan teman-teman baru yang sangat menyenangkan. Dan seperti yang biasa terjadi saya kebanyakan main dan lupa sama sekali dengan blog ini. Maaf ya cerita-cerita yang tidak tertulis, sebisa mungkin saya tulis saat ini.

Well better late than never, no?