Dua malam di rumah sakit kemudian saya pulang ke rumah Ibu saya untuk tinggal selama kurang lebih tiga bulan. Seminggu setelah melahirkan saya kebanjiran tamu (dan kado tentu). Saya sangat bersyukur dengan kehadiran keluarga dan teman dan karena kami orang Jawa saya selalu menyambut mereka dengan penuh senyuman. Yang tidak disadari adalah saya sebenarnya sangat lelah. Siang menerima tamu, malam begadang menyusui.
Seminggu setelah melahirkan saya kembali masuk rumah sakit karena mastitis dan kelelahan. Untuk para Ibu yang baru melahirkan, anda boleh kok menolak keluar kamar dengan alasan lelah. Untuk para suami dan para nenek-kakek lindungi hak istirahat sang Ibu, ya. Untuk para tamu, maklumi kalau Ibu baru ingin istirahat, bukan tidak sopan tapi mereka memang lelah.
Saya suggest jika mau mengunjungi orang yang baru melahirkan mungkin lebih baik waktu masih di rumah sakit atau sebulan setelah mereka pulang ke rumah, karena saat itu mereka sudah bisa adaptasi dengan rutinitas barunya.
Minggu, 06 April 2014
The Breastfeeding Reality
Saya yakin sudah mempersiapkan menyusui dengan baik. Saya banyak membaca, banyak nonton video, belajar dari suster di rumah sakit saat senam hamil, dan lain-lain. Ternyata kenyataan tidak segampang teori. Seminggu pertama setiap malam saya menangis kesakitan dan akhirnya masuk UGD jam 3 pagi karena mastitis.
Setelah melahirkan saya mengikuti senam nifas di RSB Asih (penting sekali!). Di sana dijelaskan tentang pijat payudara untuk kelancaran asi dan kompres payudara. Caranya mudah sekali. Pertama payudara dikompres dengan handuk hangat kemudian dipijat sekerasnya untuk mengeluarkan asi. Anda harus belajar pijat marmet.
Karena saya sangat kesakitan menyusui saya pergi ke konselor menyusui di RSB Asih, dokter mengatakan anak saya agak tongue tie, tapi saat itu saya menolak diinsisi, saya ingin mencoba cara lain. Setelah 2 minggu timbul benjolan sebesar bola pingpong di payudara kiri saya. Untuk mengecilkan saya harus terapi ultrasound. Setelah 2 kali terapi, dokter terapi bilang kalau ini tidak pengaruh dan dia menyuruh saya ke dr. Asti Praborini, SpA di KMC.
Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC adalah salah satu penulis buku Mudahnya Menyusui. Sebenarnya dia agak kontroversial karena terkenal sering menginsisi bayi-bayi tongue tie. Begitu juga anak saya, dia diinsisi di umur 1 bulan lebih. Tadinya kenaikan berat anak saya 17 gram per hari, setelah diinsisi jadi 40 gram per hari. Saya tidak tahu apakah anda setuju dengan dr. Asti atau mungkin anti insisi, tapi saya sangat bersyukur bertemu dengan dr. Asti karena sejak itu bayi saya mulai menggendut dan saya tidak kesakitan lagi.
Setelah melahirkan saya mengikuti senam nifas di RSB Asih (penting sekali!). Di sana dijelaskan tentang pijat payudara untuk kelancaran asi dan kompres payudara. Caranya mudah sekali. Pertama payudara dikompres dengan handuk hangat kemudian dipijat sekerasnya untuk mengeluarkan asi. Anda harus belajar pijat marmet.
Karena saya sangat kesakitan menyusui saya pergi ke konselor menyusui di RSB Asih, dokter mengatakan anak saya agak tongue tie, tapi saat itu saya menolak diinsisi, saya ingin mencoba cara lain. Setelah 2 minggu timbul benjolan sebesar bola pingpong di payudara kiri saya. Untuk mengecilkan saya harus terapi ultrasound. Setelah 2 kali terapi, dokter terapi bilang kalau ini tidak pengaruh dan dia menyuruh saya ke dr. Asti Praborini, SpA di KMC.
Dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC adalah salah satu penulis buku Mudahnya Menyusui. Sebenarnya dia agak kontroversial karena terkenal sering menginsisi bayi-bayi tongue tie. Begitu juga anak saya, dia diinsisi di umur 1 bulan lebih. Tadinya kenaikan berat anak saya 17 gram per hari, setelah diinsisi jadi 40 gram per hari. Saya tidak tahu apakah anda setuju dengan dr. Asti atau mungkin anti insisi, tapi saya sangat bersyukur bertemu dengan dr. Asti karena sejak itu bayi saya mulai menggendut dan saya tidak kesakitan lagi.
Labels:
insisi,
menyusui,
tali lidah,
tongue tie
Langganan:
Komentar (Atom)
